BAB I

PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang

Organisasi kesehatan dunia (2008) memperkirakan lebih dari 1,4 juta orang terdiagnosis menderita mastitis. The American society memperkirakan lebih dari 1,4 juta orang terdiagnosis menderita mastitis. The American society memperkirakan 241.240. wanita Amerika Serikat terdiagnosis mastitis sedangkan di kanada jumlah wanita yang terdiagnosis mastitis adalah 24.600 orang dan di Australia sebanyak 14.791 orang

Millenium Development Goals (MDGS) adalah hasil kesepakatan 189 negara termasuk Indonesia yang mulai dijalankan pada September tahun 2000. Adapun program pemerintah dalam rangka percepatan penurunan Angka kematian ibu guna mencapai target MDGs tahun 2015, telah dirumuskan skenario percepatan penurunan Angka kematian ibu yaitu, target MDGs akan tercapai apabila 50% kematian ibu per provinsi dapat dicegah/dikurangi.

Angka kematian ibu di Indonesia masih termasuk yang tinggi dibandingkan negara-negara di Asia misalnya Thailand dengan Angka kematian ibu 130/100.000 Kelahiran Hidup (KH). Data Survey Demografi Kesehatan indonesia (SDKI) tahun 2007 mencatat angka kematian ibu diIndonesia mencapai 228 per 100.000 KH.

Sedangkan di Indonesia hanya 0,001/100.000 angka kesakitan akibat infeksi berupa mastitis (Depkes RI,2008). Menurut hasil laporan Dinas Kesehatan tahun 2011, diketahui jumlah ibu nifas tahun 2010-2011 yaitu 2010-2011 yaitu ada 8725 orang dan yang mengalami mastitis berjumlah 108 orang (Depkes RI,2008).

Angka kematian ibu (AKI) yang tinggi menunjukkan rawannya derajat kesehatan ibu. Jumlah kasus kematian ibu yang dilaporkan di Provinsi Lampung sampai dengan bulan Desember tahun 2012 sebanyak 178 kasus terjadi peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun 2011 yaitu 152 kasus. Penyumbang kematian terbanyak adalah Kota Bandar Lampung dengan kasus terbanyak adalah eklampsia dan perdarahan, Rata-rata penyebab kematian ibu adalah perdarahan (23%), eklampsi 33%, infeksi payudara 2%, dan kematian karena adanya penyakit-penyakit lain 42% (Dinkes Lampung, 2012).

Banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu bersama dengan angka kematian bayi senantiasa menjadi indikator keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. Mengacu Angka kematian ibu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan, persalinan dan nifas jumlah kematian ibu maternal dikabupaten labuhanbatu mengalami turun naik pada tahun 2009-2013. Jumlah kematian ibu tahun 2012 sebesar 33 kasus kematian menurun tahun 2013 menjadi 16 kematian ibu maternal. Jumlah kematian ibu maternal dan jumlah kelahiran hidup per kab/kota dilabuhanbatu tahun 2011 cakupan pelayanan nifas 82,79% meningkat menjadi 86,14% tetapi padatahun 2013 terjadi penurunan sekitar 1,67% menjadi 84,47% hal ini perlu mendapat perhatian dari pengelola program untuk meningkatkan cakupan layanan (Dinkes labuhanbatu).

Selama 24 hingga 49 jam pertama setelah persalinan sekresi lakteral, payudara sering mengalami distensi menjadi keras dan berbenjol-benjol. Keadaan ini yang disebut dengan bendungan air susu atau “caked breasi” sering menyebabkan rasa nyeri yang cukup hebat dan bisa disertai dengan kenaikan suhu. (suherni,2008)

Tiga hari pasca-persalinan payudara sering terasa penuh,tegang dan nyeri. Kondisi ini terjadi akibat adanya bendungan pada pembuluh darah di payudara sebagai tanda air susu ibu mulai banyak diproduksi jika karena sakit ibu malah berhenti menyusui,kondisi ini akan semakin parah ditandai dengan mengkilatnya payudara dan ibu mengalami demam.(Rizki Natia wiji,2013)

Untuk menghindari dan mengatasi payudara bengkak,berikan ASI pada bayi segera setelah lahir dengan posisi yang benar dan tanpa jadwal. Jika produksi ASI melebihi kebutuhan bayi,keluarkan ASI dengan jalan diperah. Jangan berikan minuman lain kepada bayi dan lakukan perawatan payudara pasca persalinan seperti pemijatan.(Rizki Natia wiji,2013)



Ada sejumlah factor yang telah diduga dapat meningkatkan resiko mastitis yaitu teknik menyusui yang buruk mengakibatkan pengeluaran ASI (mastitis) yang tidak efisien, pekerjaan diluar rumah yang menyebabkan interval menyusui yang panjang sehingga kekurangan waktu untuk pengeluaran ASI yang adekuat dan trauma pada payudara karena penyebab apapun yang dapat merusak jaringan kelenjar dan saluran susu sehingga dapat menyebabkan mastitis.(kompas 2008)

Dari survey awal bulan Januari tahun 2015 diklinik bersalin Chairani Harahap Am.Keb kecamatan Rantau utara kabupaten Labuhanbatu data yang saya peroleh sebanyak 35 orang ibu hamil dari TM I,TM ll dan TM III. Hasil wawancara pada ibu bidan bahwa diantara ibu nifas yang berjumlah 5 orang diantaranya ada yang terkena bendungan ASI berjumlah 3 orang ibu nifas dan yang tidak terkena 2 orang. Dari hasil wawancara pada 8 orang ibu hamil yang mengetahui tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) sebanyak 3 orang ibu hamil, sedangkan yang tidak mengetahui 5 orang ibu hamil. Hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya pengetahuan ibu hamil tentang bendungan ASI (mastitis) terutama dalam teknik menyusui yang baik.

Berdasarkan uraian diatas, penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) di Klinik bersalin Chairani Harahap Am.Keb. Kecamatan Rantau selatan kabupaten labuhan batu tahun 2015.



1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis berkeinginan untuk mengangkat permasalahan tentang pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis).



1.3 Tujuan penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui Pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) di klinik bersalin Chairani Harahap Am.Keb.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.Untuk mengetahui Pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) berdasarkan umur di klinik bersalin Chairani Harahap Am.Keb rantauprapat tahun 2015.

2.Untuk mengetahui Pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya ASI (mastitis) ibu berdasarkan pendidikan di klinik bersalin Chairani Harahap Am.Keb rantauprapat tahun 2015.

3.Untuk mengetahui Pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) berdasarkan pekerjaan di klinik bersalin Chairani Harahap Am.Keb rantauprapat tahun 2015.

4.Untuk mengetahui Pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) berdasarkan gravida di klinik bersalin Chairani Harahap Am.keb rantauprapat tahun 2015.

5.Untuk mengetahui Pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) berdasarkan sumber informasi di klinik bersalin Chairani Harahap Am.keb rantauprapat tahun 2015.



1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Teoritis

1. Bagi penulis

Untuk menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman penulis dalam hal melakukan suatu penelitian khususnya dalam masalah Pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) di klinik bersalin Chairani Harahap Am.keb.



1.4.2 Praktis

1. Bagi institusi pendidikan

Sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian yang selanjutnya tentang pencegahan terjadiya bendungan ASI (mastitis) dan dapat dijadikan bahan bacaan yang bermanfaat bagi mahasiswa Akbid ikabina Labuhanbatu.

2. Bagi masyarakat

Sebagai bahan masukan bagi ibu hamil untuk meningkatkan pemahaman tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis).





3. Bagi petugas kesehatan

Masukan bagi petugas kesehatan ditempat penelitian untuk dapat meningkatkan palayanan kepada ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) di klinik bersalin Chairani Harahap Am.keb.

































BAB II

TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Pengetahuan (Know ledge)

2.1.1 pengertian pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari ”tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan umumnya datang dari penginderaan yang terjadi melalui panca indra manusia, yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. (Notoatmodjo, 2010)

2.1.2 Tingkat pengetahuan

Pengetahuan menurut (Notoatmodjo,2010) yang mencakup dalam 6 (enam) tingkat yaitu :

1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumya. Oleh sebab itu,tahu ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menguraikan,mendefinisikan dan meyatakan salah satu contoh untuk mendapatkan jawaban dari pengetahuan ibu hamil tentang bendungan ASI (mastitis).

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Contoh: meramalkan terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (Applicastion)

Aplikasi diartkan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi riel (sebenarnya). Aplikasi diatas penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4. Analisis (Analysis)

Analisa merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sistematis suatu kemampuan untuk menyusun formulasi –formulasi yang ada.

5. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dan formulasi yang ada.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau objek penilaian itu berdasarkan suatu cerita yang telah ideal.



2.1.3 Teori tentang ibu hamil

Ibu hamil adalah seorang wanita yang sudah menikah maupun yang belum menikah yang melakukan persenggamaan mengandung dan menyatakan hamil (Kusmiati,2009)

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari /40 minggu atau 9 bulan 7 hari. Dihitung dari pertama haid terakhir kehamilan dibagi: 3 bulan triwulan ke 2 dari bulan ke 4 dan 6 bulan, triwulan ke 3 dari bulan ke 7 sampai ke 9 bulan (Sarwono,2011)

Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari serta pribadi social didalam keluarga. Pada umumnya kehamilan berkembang dan normal dan menghasilkan kelahiran bayi setiap cukup bulan melalui jalan lahir namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan sulit diketahui sebelumnya (Sarwono,2011)

Kehamilan adalah saat yang menyenangkan dan dinanti oleh ibu dan keluarga. Semua lancar dan normal. (Saminem,2009)



2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu hamil

1. Umur

Usia memepengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik (Rahmawati, 2008).

Umur adalah lamanya hidup dalam hitungan waktu yang dihitung dari sejak dilahirkan hingga saat ini dalam satuan tahun. Umur merupakan periode penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan baru, masa kreatif. Pada dewasa ini ditandai oleh andanya perubahan-perubahan jasmani dan mental. Semakin bertambah keinginan dan pengetahuan tentang kesehatan.

( Notoatmojdo,2003)

2. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan dapat diperoleh melalui pendidikan formal maupun informal. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk memenuhi informasi. Ada beberapa jenjang pendidikan yang ditempuh oleh ibu, yaitu dikelompokan menjadi pendidikan rendah bila lulus SD, SMP dan sederajat, pendidikan menengah bila lulus SMA dan sederajat, dan bila pendidikan tinggi (Notoadmojo,2010).

3.Pekerjaan

Menurut Notoatmodjo (2007), pekerjaan adalah aktifitas yang dilakukan seseorang setiap hari dalam menjalani kehidupannya, seseorang yang bekerja diluar rumah cenderung memliki akses baik terhadap informasi dibandingkan sehari-hari berada dirumah. Dengan demikian akan menambah pengetahuan seseorang dalam memperoleh informasi.



4. Gravida

Menurut Atikah (2011) Gravida adalah jumlah kehamilan yang dialami ibu. Jumlah kehamilan sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan anak karena ibu yang sering hamil lebih mudah mendapatkan informasi tentang kesehatan dan penyakit selama kehamilan maka akan lebih baik pengetahuan.

Menurut Manuaba (1998) Gravida terbagi atas 4 bagian yaitu:

a.Primigravida adalah wanita yang hamil untuk pertama kalinya.

b secundigravida adalah wanita yang hamil untuk kedua kalinya.

c.multigravida adalah wanita yang hamil untuk ketiga kalinya.

d.Grandmultigravida adalah wanita yang hamil untuk kelima kalinya

5. Sumber informasi

Adanya informasi diharapkan akan terjadi peningkatan pengetahuan sikap dan prilaku dalam individu kelompok sasaran yang berdasarkan dan kemauan individu yang diharapkan. Berdasrkan teori yang peneliti temukan dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan perkembangan dan pengetahuan.(Notoadmodjo,2010)

Sumber informasi adalah media yang digunakan responden untuk mendapatkan pengetahuan. Sumber informasi dapat berasal dari media cetak seperti surat kabar, majalah, buku, pamphlet, media elecktronik seperti televisi, radio, internet, tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat, dan lain –lain (Arikunto 2006).

Kategori : a. ada skala ukur : Nominal

b. tidak ada Alat ukur : Kuesioner

2.2 Defenisi Kehamilan

Masa kehamilan yaitu permulaan kehamilan terjadi peningkatkan yang jelas dari duktulus yang baru,percabangan-percabangan dan lobules,yang dipengaruhi oleh hormon-hormon plasenta dan korpus luteum. Homon-hormon yang ikut membantu mempercepat pertumbuhan adalahprolaktin, laktogenplasenta, korionik gonadotropin, insulin, kortisol, hormone tiroid, hormone paratiroid, hormone pertemuan.

Kehamilan adalah Proses yang diawali dengan adanya pembuahan (konsepsi),masa pembentukan bayi dalam rahim dan diakhiri lahirnya seorang bayi (Datta,2007)

Kehamilan adalah saat yang menyenangkan dan dinanti oleh ibu dan keluarga semua lancar dan normal.(Saminem 2009)

Seseorang ibu belum tentu dikatakan hamil apabila hanya memiliki tanda-tanda seperti terlambat haid, mual-muntah, perut dan payudara membesar karena dikatakan hamil apabila sudah terdengar denyut jantung janin serta terlihatnya tulang janin melalui ultasonografi (USG) dalam foto roentgen. (Mitra riset,2009)



2.3 Defenisi Bendungan ASI (Mastitis)

2.3.1 Defenisi

ASI adalah makanan yang terbaik untuk membantu bayi tumbuh dengan sehat dan kuat. ASI melindungi bayi terhadap penyakit dan infeksi seperti diabetes, kanker dan diare. Kekebalan ibu terhadap penyakit ini akan diteruskan kepada bayinya melalui ASI. (Dr.soetjiningsih,2012)

Kadang-kadang ada minggu pertama setelah melahirkan payudara ibu terasa bengkak karena adanya sumbatan pada salura ASI. Bila hal ini dibiarkan lama-lama akan menjadi infeksi dan menyebabkan peradangan payudara yang disebut dengan mastitis.( Arief 2008)

Bendungan ASI (mastitis) adalah sumbatan pada saluran ASI yang lama-lama akan menjadi infeksi dan menyebabkan peradangan payudara, penyebab ini belum pasti diketahui namun biasanya dari bakteri, umumnya terjadi pada minggu 2-7 setelah persalinan.(Jilbab 2007)

Mastitis merupakan peradangan payudara yang dapat disertai atau tidak disertai infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi,sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Kadang-kadang keadaan ini dapat menjadi fatal bila tidak diberikan tindakan yang adekuat. Abses payudara,pengumpulan nanah local didalam payudara,merupakan komplikasi berat dari mastitis. Keaadaan inilah yang menyebabkan beban penyakit bertambah berat. (Lia yulianti 2011)

Bendungan air susu selama 24-28 jam pertama sesudah terlihat sekresi laktael yaitu payudara sering mengalami distensi menjadi keras dan berbenjol-benjol. Keadaan ini yang disebut dengan bendungan ASI atau “caket breasi” sering menyebabkan rasa nyeri yang cukup hebat dan bisa disertai dengan kenaikan suhu.(Suherni s,2008)

Mastitis puerperalis atau disebut lactational mastitis,jenis ini banyak diidap wanita menyusui. Menurut Dr.Samuel,sekitar 90% penyebab utama mastitis ini ialah akibatnya kuman yang menginfeksi payudara ibu. Hal dikarenakan air susu merupakan media yang subur bagi pengembang biarkan berbagai jenis kuman.(Sarwono,2007)

Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2 % wanita yang menyusui. Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah melahirkan terutama pada primipara. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu,tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Payudara yang bengkak, demam, menggigil dan penderita merasa lemah dan tidak nafsu makan. Terjadi beberapa minggu setelah melahirkan.(Aiyeyeh rukiyah,2011)



2.3.2 Penyebab bendungan ASI (mastitis)

Dua penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi statis ASI biasanya merupakan penyebab primer yang dapat disertai atau berkembang menuju infeksi. Organisme penyebab infeksi adalah Staphylococcus Aureus. Gunther pada tahun 1958 menyimpulkan dari pengamatan klinis bahwa mastitis diakibatkan oleh stagnasi ASI didalam payudara dan bahwa pengeluaran ASI yang efisien dapat mencegah keadaan tersebut. Ia menyatakan bahwa infeksi bila terjadi,bukan primer,tetapi diakibatkan oleh stagnasi ASI sebagai media pertumbuhan bakteri.(Lia yulianti,2011)

Statis ASI dapat membaik hanya dengan terus menyusui,mastitis non infeksiosa membutuhkan tindakan pemerasa ASI setelah menyusui dan mastitis infeksiosa hanya dapat diobati dengan pemerasan ASI dan antibiotic sistemi.Tanpa pengeluaran ASI yang efektif,mastitis non infeksiosa sering berkembang menjadi mastitis infeksiosa,dan mastitis infeksiosa menjadi pembentukan abses.(Sally 1,Severin V.X,2003)



2.3.3 Tanda dan gejala

Tanda dan gejala mastitis antara lain:

1.Payudara yang terbendung membesar,membengkak,keras dan sangat nyeri

2. Payudara dapat terlihat merah,mengkilat dan putting teregang menjadi rata

3. Asi tidak mengalir dengan mudah,dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap asi sampai pembengkakan berkurang

4. Ibu akan tampak seperti sedang mengalami flu,dengan gejala demam,rasa dingin dan tubuh terasa pegal



2.3.4 Pencegahan

Mastitis dan abses payudara sangat mudah dicegah, bila menyusui dilakukan dengan baik sejak awal untuk mencegah agar tidak terjadi sumbatan pada payudara dan bila tanda dini seperti bendungan,sumbatan saluran payudara dan nyeri putting susu diobati dengan baik. Ibu atau siapa saja yang merawat mereka perlu mengetahui tentang penatalaksanaan menyusui yang efektik,pemberian makan bayi dengan adekuat dan tentang pemeliharaan kesehatan payudara.

Ada beberapa praktek yang harus dilakukan secara rutin untuk mencegah terjadinya statis ASI dan bendungan ASI(mastitis), antara lain :

1. Bayi harus mendapat kontak dini dengan ibunya,dan mulai menyusui segera setelah tampak tanda-tanda kesiapan,biasanya dalam jam pertama atau lebih.

2. Bayi harus diruangan yang sama dengan ibunya,atau didekatkan pada kamar yang sama.

3. Semua itu harus mendapat bantuan dan dukungan yang terlatih dalam teknik menyusui,baik sudah maupun belum pernah menyusui sebelumnya,untuk menjamin kenyutan yang baik pada payudara, pengisapan yang efektif dan pengeluaran ASI yang efisien

4. Setiap ibu harus didorong untuk menyusui kapan saja bayi menunjukkan tanda-tanda siap menyusui, seperti membuka mulut dan mencari payudara.

5. Setiap ibu harus memahami pentingnya menyusui tanpa batas dan eksklusif.

6. Ibu harus menerima bantuan yang terlatih untuk mempertahankan laktasi bila bayinya terlalu kecil atau lemah untuk menghisap dengan efektif.

7. Bila ibu dirawat dirumah sakit,ia memerlukan bantuan yang terlatih saat menyusui pertama kali dan sebanyak yang diperlukan pada saat menyusui berikutnya.

8. Bila ibu berada dirumah,ibu memerlukan bantuan yang terlatih selama hari pertama setelah persalinan, beberapa waktu selama dua minggu pertama,dan selanjutnya seperti yang dibutuhkan sampai ibu menyusui dengan efektif dan percaya diri.

Pertama, dan selanuya seprti yang butuhkan sampai ibu menyusui dengan efektif dan percaya diri.

Ada beberapa hal yang harus dihindari karena dapat mengganggu membatasi atau mengurangi jumlah hisapan dalam proses menyusui dan juga meningkatkan resiko statis ASI antara lain :

1. Penggunaan dot

2. Pemberian makanan dan minuman lain pada bulan-bulan pertama terutama dari botol susu

3. Tindakan melepaskan bayi dari payudara pertama sebelum ia siap untuk menghisap payudara yang lain

4 Beban kerja yang berat atau penuh tekanan

5. Kelelapan menyusui,termasuk bila bayi mulai tidur sepanjang malam

6. Trauma pada payudara,karena kekerasan atau penyebab lain

Hal-hal tersebut harus dihindari atau sedapat mungkin ibu dilindungi darinya,tetapi bila tidak dihindarkan,ibu dapat mencegah bendungan ASI (mastitis) bila ia melakukan perawatan ekstra pada payudara.

Inisiasi menyusui dini (IMD) merupakan suatu cara yakni memberikan kesempatan pada bayi baru lahir untuk menyusui pada ibunya dalam satu jam kedepannya,karena sentuhan bayi melalui refleks hisapannya yang timbul mulai 30-40 menit setelah lahir akan menimbulkan rangsangan sensorik pada otak ibu untuk memperoduksi hormone prolaktin dan memberikan rasa aman pada bayi .(RIZKI natalia wiji,2013)

Selama masa menyusui,ada kalanya timbul masalah yang dialami seorang ibu. Masalah ini dapat mengganggu keberhasilan dalam menyusui. Pembahasan dalam buku ini mengutamakan upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasinya sehingga ibu dapat memberikan ASI secara optimal dan bayi dapat tumbuh kembang dengan normal.



2.3.5 penanganan

Penanganan yang dilakukan untuk penderita bendungan ASI

(Mastitis) antara lain :

1. Beristirahat ditempat tidur bila mungkin.

2. Sering menyusui pada payudara yang terkena.

3. Mengompres panas pada payudara yang terkena,berendam air hangat atau pancuran hangat.

4. Memijat dengan lembut daerah benjolan saat bayi menyusui untuk membantu ASI mengalir dari daerah tersebut.

Pemberian antibiotikdan analgesic:

1. Amoxicillin 250-500 mg setiap 12 jam

2. Paracetamol 500 mg setiap 8 jam.







2.3.6 Cara menyusui yang baik

cara menyusui sangat mempengaruhi kenyamanan bayi menghisap air susu. Oleh karena itu,usahakan agar ibu dapat menyusui dengan baik. Perhatikan hal-hal berikut ini agar tujuan tersebut tercapai.

1. Usahakan posisi ibu dan bayi cukup nyaman saat menyusui baik dalam posisi duduk yang ditopang dengan bantal atau berbaring

2. Peluk dan letakkan kepala bayi pada siku tanganibu sehingga menopang bokong bayi seperti tahap berikut ini:

· Letakkan bayi menghadap ibu sehingga telinga dan lengannya berada pada satu garis lurus.selanjutnya letakkan menghadap payudara sehingga dagu bayi menyentuh payudara.

· Sangga bawah/dasar payudara dengan jari-jari,jangan terlalu dekat pada putting susu,melainkan diluar areola dan tidak menjepit putting susu dengan dua jari.

· Bayi akan meraih payudara jika lapar.rangsangan mulut bayi pada bagian areola sehingga timbul refleks bayiuntuk mencari putting. Mulut akan terbuka lebar dan bibir bawah menjulur. Selanjutnya segera lekatkan sehingga lidah mencekap putting dan areola payudara.

· Pipi bayi akan melihatan bulat karena sebagian besar areola berada dalam mulut bayi dan areola yang tersisa adadi atas mulut bayi.

· Terlihat isapan yang lambat dan dalam disertai gerakan menelan yang teratur.

· Bayi tetap melekat pada payudara dengan tenang dan rasa aman sambil merangkul dengan yakin karena perhatian dan sentuhan ibu yang penuh kasih.

· Jika ASI keluar tampak menetes,susukan bayi selama 10-15 menit atau sesuai kebutuhan pada satu payudara sampai terasa kosong (lunak). Selanjutnya,pindahkan pada bagian payudara lain dan susukan selama 10-15 menit.

Posisikan bayi pada payudara sangat penting. Pengisapan yang buruk dapat menyebabkan masalah.

· Putting susu menjadi luka dan sakit

· Air susu tidak mencukupi

· Bayi menolak untuk menyusu

Berikut ini tanda-tanda bayi menyusu dalam posisi yang baik.

· Seluruh badan bayi menghadap ibu

· Bayi menghisap lama dan dalam

· Bayi santai dan bahagia

· Putting susu tidak terasa sakit

Ketika menyusui,bebaskan lubang hidung bayi dan usahakan tidak tertekan oleh payudara agar pernapasannya tidak terganggu. Bayi yang cukup tenang perlu diberikan rangsangan menoleh (rooting refleks) dengan cara menyentuh halus pada mulut bibir. Dengan demikian,mulut bayi akan terbuka lebar sehingga sebagian besar areola masuk dalam mulut bayi termasuk putting susu.

Dengan posisi menyusui yang baik,bayi akan tampak menghisap dengan kuat dan terdengar suara menelan. Usahakan bayi menyusui pada kedua payudara secara bergantian agar besar payudara tidak berbeda. Sebaiknya,lamanya menyusui pada bayi disesuaikan dengan kebutuhan,tidak perlu dibatasi atau dijadwalkan waktunya.

Apabila bayi telah kenyang dan ibu ingin mengakhiri pemberian asi,letakkan jari telunjuk pada sudut mulut bayi dan tekan pelan-pelan sampai mulutnya terlepas dari putting susu. Putting susu ibu tidak akan terasa sakit karena tidak tertarik oleh isapan kuat bayi. Selanjutnya bersihkan dengan kapas kering.

Setelah menyusu bayi tampak tenang dan puas,bahkan umumnya bayi akan tertidur dengan nyenyak. Bersihkan bayi dari sisa Asi dan mulut dan sekitarnya dengan kapas basah dan hangat agar tidak terkena alergi pada kulit mukanya.

Sendawakan bayi agar udara yang terisap saat menyusui dapat dikeluarkan sehingga perutnya tidak kembung. Caranya dengan meletakkan bayi tegak lurus pada bahu dan tangan ibu menopang kepala bayi. Selain itu,dapat pula dengan meletakkan bayi pada pangkuan ibu. Selanjutnya, usap/tepuk perlahan-lahan bayi pada bagian belakangnya sampai bersendawa jika bayi sudah tidur, berbaring miring kekanan atau tengkurap sehingga udara dari dalam perut akan keluar dengan sendirinya.

2.3.6.1 Beberapa hal-hal yang perlu diperhatikan saat menyusui agar terhindar dari berbagai masalah.

1. periksakan sedini mungkin seandainya ada keluhan berkaitan dengan kondisi payudara.

2. Rawatlah payudara sedini mungkin dengan baik. Pakailah pemakaian BH yang tepat. Lakukan latihan otot-otot tubuh yang berfungsi menopang serta memperhatikan kebersihan payudara,khususnya daerah putting dan areola.

3. Perhatikan nutrisi atau zat gizi yang dikonsumsi agar asi bermutu baik.

4. Hindari merokok dan jauhi asap rokok. Tidak minum-minuman beralkohol serta kurangi minum kopi,teh,dan minuman yang mengandung soda. Minum-minuman tersebut dapat mengurangi kemampuan usus dalam menyerap beberapa zat gizi,seperti kalsium dan zat besi.

5. Perhatikan agar obat-obatan untuk ibu menyusui hendaknya atas sepengetahuan dokter karena obat-obatan tersebut juga akan terdapat dalam ASI.



2.3.6.2 Berikut hal-hal penting yang harus diperhatikan ibu saat menyusui.

1. Siapkan mental dan fisik setiap akan menyusui.ibu harus menyusui bayinya dalam keadaan tenang. Minumlah segelas air sebelum menyusui.

2. Sediakan tempat dan peralatan yang dibutuhkan,seperti kursi dengan sandaran punggung dan sandaran tangan serta bantal untuk menopang tangan yang menggedong bayi.

3. Sebelum menggedong bayi untuk menyusui,cucu tangan sampai bersih. Sebelum menyusui,tekan daerah areola diantara telunjuk dan ibu jari sehingga keluar 2-3 tetes ASI,lalu oleskan keseluruh putting dan areola agar kulit putting dan areola menjadi lemas dan merupakan obat antiinfeksi. Cara menyusui yang terbaik adalah jika ibu melepaskan penyongkong kedua payudara.

4.Susukan bayi sesuai kebutuhan dan tidak dijadwalkan sehingga kebutuhannya terpenuhi. Lakukan proses menyusui pada kedua payudara,yaitu bagian kiri dan kanan secara bergantian masing-masing minimum 15 menit. Mulailah selalu dari payudara yang terasa lebih padat atau payudara terakhir yang disusukan sebelumnya,berikan ASI sampi payudara terasa kosong.

5.Setelah selesai menyusui,oleskan ASI pada putting susu dan areola,seperti awal menyusui. Biarkan kering oleh udara sebelumnya memakai penyokong payudara. Langkah ini dapat dilakukan sambil menyangga dan menepuk-manepuk bayi untuk bersendawa.

2.3.7 Manfaat ASI

Merupakan ASI pada bayi sangatlah penting dilakukan oleh seorang ibu minimal sampai berusia 2 tahun. Adapaun manfaat pemberian ASI adalah:

1.Bagi bayi

· Dapat membantu memulai kehidupannya dengan baik

· Mengandung antibody

· Asi mengandung komposisi yang tepat

· Mengurangi kejadian karies dentis

· Memberikan rasa nyaman aman pada bayi dan adanya ikatan antara ibu dan bayi

· Terhindar dari alergi

· Asi meningkatkan kecerdasan bagi bayi

· Membantu perkembangan rahang dan merangsang pertumbuhan gigi karena gerakan menghisap mulut bayi pada payudara.

2 Bagi ibu

· Sebagai aspek kontrasepsi

· Sebagai aspek kesehatan ibu

· Sebagai aspek penurunan berat badan dan

· Sebagai aspek psikologis

3. Bagi keluarga

· Sebagai aspek ekonomi

· Sebagai aspek psikologis dan

· Sebagai aspek kemudahan



4. Bagi Negara

· Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi

· Menghemat devisa Negara

· Mengurangi subsidi untuk rumah sakit

1. Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin

Menyusui bayi secara tidak dijadwalkan (on demand),karena bayi akan menentukan kebutuhan sendiri. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam

2. Hanya berikan kolostrum dan ASI saja

Asi dan kolostrum adalah makanan terbaik bagi bayi. Kolostrum merupakan cairan kental kekuning-kuningan yang dihasilkan oleh alveoli payudara ibu pada periode akhir atau trimester III kehamilan. Kolostrum dikeluarkan pada hari pertama setelah persalinan.(Rizki Natalia wiji,2013)



2.3.8 Pembentukan dan persiapan ASI

Persiapan pemberian ASI dilakukan bersama dengan kehamilan pada

keehamilan payudara semakin padat karena retensi air,lemak serta

1. Membersihkan putting susu dengan air atau minyak,seingga epitel yang lepas tidak munumpuk

2. putting susu ditarik-tarik setiap mandi,sehingga menonjol memudahkan isapan bayi

3. bila putting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi

2.3.8.1 posisi dan perlekatan menyusui

Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara menyususi yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri atau berbaring.





Gambar 1. Posisi menyusui sambil berdiri yang benar (Perinasia, 2004)



Gambar 2. Posisi menyusui sambil duduk yang benar (Perinasia, 2004)



Gambar 3. Posisi menyusui sambil rebahan yang benar (Perinasia, 1994)

Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti ibu pasca operasi sesar. Bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan posisi kaki diatas. Menyusui bayi kembar dilakukan dengan cara seperti
memegang bola bila disusui bersamaan, dipayudara kiri dan kanan. Pada ASI yang memancar (penuh), bayi ditengkurapkan diatas dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi, dengan posisi ini bayi tidak tersedak.



Gambar 4. Posisi menyusui balita pada kondisi normal (Perinasia,2004)



Gambar 5. Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di ruang perawatan (Perinasia, 2004)



Gambar 6. Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di rumah (Perinasia, 2004)



Gambar 7. Posisi menyusui bayi bila ASI penuh (Perinasia, 2004)



Gambar 8. Posisi menyusui bayi kembar secara bersamaan (Perinasia, 2004)



2.3.8.2 Langkah-langkah menyusui yang benar

Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai.



Gambar 9. Cara meletakan bayi (Perinasia, 2004)



Gambar 10. Cara memegang payudara (Perinasia, 2004)

Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyetuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.


Gambar 11. Cara merangsang mulut bayi (Perinasia, 2004)

Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak dibawah putting susu. Cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar.



Gambar 12. Perlekatan benar (Perinasia, 2004)



Gambar 13. Perlekatan salah (Perinasia, 2004)



2.3.8.3 Teknik menyusui yang benar

Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusui. Apabila bayi telah menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut :

1. Bayi tampak tenang.

2. Badan bayi menempel pada perut ibu.

3. Mulut bayi terbuka lebar.

4. Dagu bayi menmpel pada payudara ibu.

5. Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk.

6. Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan.

7. Puting susu tidak terasa nyeri.

8. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.

9.Kepala bayi agak menengadah.



Gambar 14. Teknik menyusui yang benar (Perinasia, 2004)



Gambar 15. Kutang (BH) yang baik untuk ibu menyusui (Perinasia, 2004)















BAB III

METODE PENELITIAN



3.1. Kerangkan Konsep

Kerangka konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep –konsep atau variabel – variabel yang akan diamati (diukur) melalui penelitian (Notoatmojdo, 2012). Salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu hamil tentang upaya pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) di klinik Chairani Harahap Am.keb RantauPrapat Tahun 2015 di bawah ini :



Kerangka Konsep



Variabel Independen Variabel Dependen





Pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis)




o Umur

o Pendidikan

o Pekerjaan

o Gravida

o Sumber informasi















Keterangan : kerangka konsep dalam penelitian ini tidak menghubungkan antara variabel bebas dan variabel terikat

3.2 Defenisi Operasional

Defenisi Operasional adalah mendefenisikan variable secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, yang kemungkinan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena ( Notoatmojdo,2012 ).

3.2.1 Pengetahuan Ibu Hamil

Pengetahuan adalah hasil tahu, ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) dalam kehamilan yang dinilai dari jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuisioner dan hasilnya di kategorikan dengan :

1. Baik,jika jawaban responden benar 21-30 ( 70%-100% )

2. Cukup,jika jawaban responden benar 11-20 ( 37%-67% )

3. Kurang,jika jawaban responden benar 0-10 ( 0%-33% )

Skalaukur : Ordinal

Alatukur : Kuisioner

3.2.2 Umur

Usia memepengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik (Rahmawati, 2008).

1.15-20 tahun

2. 21-25 tahun

3. 26-30 tahun

4. 31-35 tahun

Skala ukur : Interval

Alat ukur : Kuisioner

3.2.3. Pendidikan

Pendidikan adalah merupakan Jenjang pendidikan terakhir yang diselesaikan ibu hamil ditandai dengan ijazah.

1. Pendidikan dasar meliputi (SD-SMP)

2. Pendidikan menengah meliputi ( SMA, MA, SMK Sederajat )

3. Pendidikan Tinggi meliputi( Akademi, PerguruanTinggi )

( Depdiknas, 2003 ).

Skala ukur : Ordinal

Alat ukur : Kuisioner

3.2.4 Pekerjaan

Pekerjaan merupakan suatu kegiatan atau aktivitas responden untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya.

1. Pegawai Negri ( Bekerja)

2.Pegawai Swasta (Bekerja)

3. Wiraswasta (Bekerja)

4. Petani (Bekerja)

5. IRT (Tidak bekerja)

Skala ukur : Nominal

Alat ukur : Kuiesioner



3.2.5 Gravida

Gravida adalah jumlah kehamilan yang dialami seorang ibu dan akan melahirkan seorang anak baik hidup ataupun meninggal. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner dengan kategori :

Menurut Manuaba (1998) Gravida terbagi atas 4 bagian yaitu:

1.Primigravida adalah wanita yang hamil untuk pertama kalinya.

2.Secundigravida adalah wanita yang hamil untuk kedua kalinya.

3.Multigravida adalah wanita yang hamil untuk ketiga kalinya.

4.Grandmultigravida adalah wanita yang hamil untuk kelima kalinya

Skala ukur : ordinal

Alat ukur : Kuisiner

3.2.6 Sumber Informasi

Sumber Informasi adalah informasi yang di peroleh ibu tentang

pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) di kategorikan dalam:

1. Ada

a. Ada meliputi Tenaga kesehatan ( Dokter, bidan, perawat )

b. Media masa meliputi ( Buku. Koran, Majalah )

c. Media elektronik meliputi ( Televisi, Radio, Internet ).

2. Tidak ada

Skala ukur : Nominal

Alat ukur : Kuesioner

3.3 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu menggambarkan atau mendeskripsikan tentang keadaan secara objektif mengenai pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) dalam kehamilan di klinik Chairani Harahap Am.Keb Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten LabuhanBatu Tahun 2015. (Notoatmodjo, 2012 )



3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.4.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di klinik Chairani Harahap Am.Keb Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten LabuhanBatu Tahun 2015.

3.4.2 Waktu Penelitian

Adapun Waktu penelitian mulai bulan januari– juni 2015.



















Tabel 3.1 Jadwal Penelitian


No

Uraian

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli




1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4


1.

Pengajuan judul


























































2.

Survey awal


























































3.

Izin penelitian


























































4.

Penyusunan proporsal


























































5.

Seminar proposal


























































6.

Perbaikan proposal


























































7.

Praktek Belajar Lapangan


























































8.

Pengumpulan data


























































9.

Pengolahan data


























































10.

Analisa data


























































11.

Sidang KTI


























































12.

Perbaikan KTI


























































13.

Penggandaan


























































14.

Yudisium






































































































3.5 Populasi dan Sampel

3.5.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang ada di Klinik Chairani Harahap Am.Keb pada bulan Januari-Maret tahun 2015 sebanyak 35 orang.

3.5.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil dari keseluruhan populasi yang ada yaitu sebanyak 35 orang ibu hamil (total sampling) di Klinik Chairani Harahap Am.Keb Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten LabuhanBatu tahun ( Notoatmodjo, 2012).



3.6 Jenis Dan Cara Pengumpulan Data

3.6.1 Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan sekunder

3.6.1.1 Data primer

Data primer: Data yang diperoleh langsung dari responden melalui jawaban kuesioner maupun wawancara diklinik Chairani Harahap Am.Keb. Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten LabuhanBatu.

3.6.6.2 Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari kumpulan sumber dari catatan, media, laporandi klinik Chairani Harahap Am.Keb. Data sekunder juga dapat sebagai data penunjang atau penguat sebagai bukti kebeneran data tersebut.



3.6.2 Cara Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data diambil dari klinik Chairani Harahap Am.Keb Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhanbatu yaitu dengan cara memberikan undangan kepada responden ( ibu hamil trimester l,ll,dan lll ) dengan maksud agar responden datang ke klinik bidan Chairani Harahap Am.Keb pada hari yang di tentukan dengan tujuan mengisi kuesioner dan memberikan penyuluhan tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI

(mastitis) dilakukan setelah responden selesai mengisi kuesioner yang diberikan. Sebelum responden menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam kuesioner, peneliti menjelaskan tata cara pengisian kuesioner, dan responden diminta menandatangani kesediaannya untuk menjadi responden dalam penelitian.

Penelitian ini menggunakan data primer yang berasal dari kuesioner. Setelah kuesioner disebarkan kepada responden, terlebih dahulu peneliti memberikan penjelasan tentang cara pengisian kuesioner serta meminta responden untuk menandatangani persetujuan menjadi responden

( informand consent ).

Setelah selesai menjawab seluruh pertanyaan, kuesioner , dikumpulkan kembali untuk diperiksa kelengkapan jawaban responden. Jawaban yang telah diisi seluruhnya secara langsung dikumpulkan. Sedangkan jika ada jawaban yang belum lengkap, responden diminta mengisi jawaban yang belum dijawab tersebut. Cara pembuatan kuesioner berdasarkan kisi-kisi soal yang berisikan tentang pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI ( mastitis).







3.7 Pengolahan dan Tehnik Analisa data

3.7.1 Pengelolahan Data

Data yang telah terkumpul selanjutnya diolah secara manual

dengan langkah –langkah sebagai berikut :

1. Editing (pengeditan)

Pada langkah ini peneliti melakukan pengecekan terhadap kuesioner bertujuan agar data yang masuk dapat diolah secara benar sehingga pengelolahan data dapat memberikan hasil yang menggambarkan masalah yang teliti.

2. Coding (pengkodean)

Pada langkah ini peneliti melakukan pengkodean dengan cara mengubah jawaban responden ke dalam bentuk angka, misalnya nama responden dirubah menjadi 1, 2, 3,.....30

3. Tabulating (table)

Untuk mempermudah analisis data serta mengambil kesimpulan, data, dimasukan ke dalam table di stribusi frekuensi, dan dihitung perensentasenya untuk setiap variabel yang diteliti.



4. Scoring (skor)

Melakukan pemeriksaan terhadap jawaban responden yang ada dan memberikan skor yang akan diperoleh pada kuesioner, lalu pengelompokan sesuai kategori pengetahauan.( Notoatmojdo, 2010)

3.7.2 Tehnik Analisis Data

Dalam penlitian ini tehnik analisa data di sajikan dengan menggunakan table frekuensi dengan melihatkan presentasi data yang di kumpulkan lalu membahas hasil penelitian dengan menggunakan secara membandingkan dengan teori dan keputusan yang ada. Proses analisa pada penlitian ini adalah dengan melakukan tabulasi terhadap data yang masuk dalam kategor yang benar dan salah. Kemudian dilakukan scoring, Proses selanjutnya adalah apakah hasil scoring tersebut masuk dalam kategori: baik, cukup, dan kurang penelitian acuan patokan.

Peneliti mengumplkan data pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI (mastitis) dengan menggunakan kuesioner terbuka yaitu yang sudah di lengkapi dengan pilihan jawaban a, b, c, d kemudian di lakukan scoring.



Jumlah jawaban benar x100%

Jumlah soal







Menurut Arikunto( 2006 ) kategori nilai / skor adalah sebagai berikut :

1. Baik,jika jawaban responden benar 21 - 30 % ( 70%-100% )

2. Cukup,jika jawaban responden benar 11- 20 ( 37%-67% )

3. Kurang,jika jawaban responden benar 0-10 ( 0%-33% )

Setelah diperoleh kategori pengetahuan dari masing-masing responden, kemudian dilakukan presentase.






















file:///E:/TESIS/PROPOSAL.htm











View Post


ABSTRAK

xii + 52 Hal + 6 Diagram + 6 Tabel + 10 Lampiran

Sectio Caesaria adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram.Mobilisasi dini merupakan suatu pergerakan, posisi atau adanya kegiatan yang dilakukan ibu setelah beberapa jam melahirkan dengan persalinan Caesaria.

Penelitian ini bersifat deskriftif bertujuan untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Sectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini Post Sectio Caesaria.Pada Mobilisasi Dini Post Sectio Caesaria di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu menggunakan data primer dan sekunder.Populasi berjumlah 38 responden kemudian seluruh populasi dijadikan sampel dengan menggunakan teknik aksidental sampling.

Hasil penelitian Pengetahuan Ibu Post Sectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini Post Sectio Caesaria kategori mayoritas berpengetahuan cukup sebanyak 23 responden (60,53 %) dan minoritas berpengetahuan baik sebanyak 6 responden (15,79 %).

Dari hasil penelitian berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan, sumber informasi, dan pengalaman dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu kategori cukup.Untuk itu diharapkan kepada ibu Post Sectio Caesaria agar lebih mengetahui tentang mobilisasi dini Post Sectio Caesaria dan diharapkan kepada petugas kesehatan agar dapat memberikan pendidikan kesehatan tentang mobilisasi dini Post Sectio Caesaria.


Kata Kunci : Ibu Post SC – Mobilisasi Dini Post SC
Daftar Pustaka : 17 (2005 – 2013) 
_____________________________________________________________________________________


KATA PENGANTAR

   Assalamualaikum wr.wb

   Alhamdulillahirabbil’alamin puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan hidayahnya sehingga peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan baik. Shalawat berangkaikan salam tidak lupa penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, semoga kita termasuk umat yang mendapat syafaatnya di Yaumal Qiamah. Aamin
   Adapun judul Karya Tulis Ilmiah ini adalah “Pengetahuan Ibu Post Sectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini Post Sectio Caesaria Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015” yang telah disusun sebagai tugas akhir dan untuk melengkapi tugas-tugas serta memenuhi syarat untuk menyelesaikan program pendidikan Diploma III Kebidanan.
  Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak kekurangan baik dari segi isi maupun bahasa dan penulisannya, untuk itu peneliti mengharapkan adanya kritik dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun untuk perbaikan dimasa yang akan datang.
  Dengan selesainya Karya Tulis Ilmiah ini perkenankanlah peneliti menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
  1. Bapak H. Faisal Hasibuan, S.Psi, selaku Ketua Yayasan Akademi Kebidanan Ika Bina Labuhanbatu.
  2. Ibu Rani Darma Sakti Tanjung, SST, M.Kes selaku Direktris Akademi Kebidanan Ika Bina Labuhanbatu dan selaku penguji I yang telah banyak membantu dan membimbing penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
  3. Bapak H. Surya Dharma Hasibuan, SST selaku penguji II yang telah banyak membantu dan membimbing penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
  4. Ibu Yulia Widianti, SST selaku Penguji III sekaligus Dosen Pembimbing saya yang telah banyak meluangkan waktu dan membagi ilmunya untuk membimbing peneliti dalam pembuatan dan penulisan Karya Tulis Ilmiah.
  5. Ibu dan Bapak seluruh staf Dosen Akademi Kebidanan Ika Bina Labuhanbatu yang telah memberikan bimbingan secara langsung maupun tidak langsung kepada peneliti.
  6. Ibu dr. Magdalena Aritonang selaku Direktur Rumah Sakit Umum Kasih Ibu tempat penulis meneliti yang telah memberikan banyak bantuan kepada peneliti.
  7. Teristimewa ananda ucapkan kepada Ibunda dan Ayahanda yang telah memberikan kasih sayang, serta doanya kepada peneliti dan seluruh keluarga besar yang telah banyak memberikan doa dan dukungannya.
  8. Terimakasih kepada teman – teman seperjuangan angkatan ke VII yang telah banyak memberikan dukungannya dan menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
   Semoga Allah SWT membalas semua amal kebaikan yang diberikan.Akhirnya peneliti mengharapkan Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khususnya bagi peneliti.Amin.

                                                                                                           Rantauprapat, Juni 2015



                                                                                                                     ( Penulis )


____________________________________________________________________________________



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

    Dengan meningkatnya frekuensi Sectio Caesaria ini, maka dapat meningkat pula angka kejadian ibu hamil dengan riwayat pernah melahirkan dengan Sectio Caesaria serta penyulit yang dialami saat persalinan yang sebelumnya akan mendapat resiko terjadinya morbiditas dan mortalitas yang meningkat terutama berhubungan dengan perut uterus. Masalah kesehatan ibu Post Sectio Caesaria yang tercakup kedalam faktor resiko yang menggolongkan kehamilan dengan bekas Sectio Caesaria kedalam kelompok faktor resiko (Anggy Afriyanti, 2007).
    Sectio Caesaria adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Wiknjosastro, 2005).
    Dalam membantu jalannya penyembuhan ibu pasca Sectio Caesaria disarankan untuk melakukan mobilisasi dini.Tetapi pada ibu yang mengalami Sectio Caesaria, disarankan untuk melakukan mobilisasi dini.Tetapi, pada ibu yang mengalami Sectio Caesaria rasanya sulit untuk melaksanakan mobilisasi karena ibu merasa letih dan sakit.Salah satu penyebabnya adalah ketidaktahuan pasien mengenai mobilisasi dini.Untuk itu diperlukan pendidikan kesehatan tentang mobilisasi dini pasca operasiSectio Caesaria sehingga pelaksanaan mobilisasi dini lebih maksimal dilakukan. Sebenarnya ibu yang mengalami Sectio Caesaria mengerti dalam pelaksanaan mobilissasi dini, namun ibu tidak mengerti apa manfaat dilakukan mobilisasi dini (Suriniah, 2005 ).
    Menurut WHO memperkirakan bahwa angka persalinan dengan SectioCaesaria sekitar 10% sampai 15% dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang dibandingkan dengan 20% di Britania Raya dan 23% di Amerika Serikat, Kanada 2003 memiliki angka 21% angka persalinan dengan Sectio Caesaria.
   Jumlah angka kematian ibu masih tergolong tinggi di negara-negara ASEAN lainnya.AKI di Malaysia mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup. Di negara-negara maju, angka Sectio Caesaria meningkat dari 5% pada 25 tahun yang lalu menjadi 15% hingga sekarang (Depkes, 2008).
   Di Indonesia sendiri, persentase Sectio Caesaria 5%.Dirumah sakit pemerintah rata-rata 11%, sementara di Rumah Sakit Swasta bisa lebih dari 30%. Angka kejadian Sectio Caesaria di Indonesia menurut data survey nasional tahun 2007 adalah 927.000 dari 4.039.000 persalinan atau sekitar 22,8% angka kejadian Sectio Caesaria.Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia berjumlah 307/100.000 kelahiran hidup.Bila dibandingkan negara-negara Asean, AKI Indonesia menempati posisi mengkhawatirkan.Yang menyebabkan AKI tinggi ada dua faktor penyebab yaitu medis dan akses ke pelayanan kesehatan. Mengenai target menurunkan AKI menjadi 125/100.000, agaknya sulit mencapai target tersebut (Anonymous, 2007).
   Dari data hasil penelitiannya yang dilakukan di RSUD Dr. Pirngadi Medan pada tanggal 26 Oktober 2010 di dapatkan informasi dari 10 orang ibu bersalin dengan operasi Sectio Caesaria mengatakan bahwa sangat takut untuk melakukan mobilisasi dini pasca operasi Sectio Caesaria. Hal ini disebabkan karena ibu merasa sangat sakit efek dari anastesi telah hilang sehingga tidak mampu untuk melakukan mobilisasi dini dan khawatir jahitan luka bekas operasi akan merengang atau terbuka, sehingga menyebabkan terjadi ruam atau lecet pada bagian punggung bagian bawah, kekuatan atau penegangan otot-otot seluruh tubuh, pusing dan susah bernafas, juga susah buang air besar maupun berkemih serta bengkak pada tungkai kaki. Tindakan operasi akan mengakibatkan penurunan gangguan terhadap mobilisasi pasien. Oleh karena itu mobilisasi merupakan kegiatan yang penting pada periode post operasi Sectio untuk mencegah komplikasi. Kemampuan pasien untuk bergerak dan berjalan pada post operasi akan menentukan kegiatan yang harus dilaksanakan untuk memberi kesempatan pada pergerakan yang maksimal. Bergerak dan beraktifitas diatas tempat tidur membantu mencegah komplikasi pada sistem pernafasan,kardiovaskular, mencegah dekubitus, merangsang peristaltik usus dan mengurangi rasa nyeri (Kasdu, 2005).
   Dewasa ini semakin banyak dokter dan tenaga medis yang menganjurkan pasien yang baru melahirkan dengan operasi agar segera menggerakkan tubuhnya.Dokter kandungan menganjurkan pasien yang mengalami operasi Caesaria untuk tidak berdiam diri ditempat tidur tetapi harus menggerakkan badan atau mobilisasi (Kasdu, 2005).
  Pada tahun 2013 kasus Angka Kematian Ibu (AKI) di Sumatera Utara ada sebanyak 173 kasus, dan hingga Juni 2014 ada sebanyak 67 kasus. Penyebab tingginya angka kematian ibu di Sumatera Utara disebabkan oleh perdarahan, yang diperkirakan setiap bulan mencapai 150 kasus, kemudian komplikasi persalinan (45%), retensio plasenta (21%), komplikasi selama nifas (5%), infeksi (5%) (Dinkes Sumatera Utara, 2013).
   Di Labuhanbatu Angka Kematian Ibu (AKI) mengalami turun naik pada tahun 2009-2013. Jumlah kematian ibu tahun 2012 sebesar 33 kasus kematian menurun tahun 2013 menjadi 16 kematian ibu maternal. Pelayanan ibu di Kabupaten Labuhanbatu pada tahun 2011-2013 cenderung meningkat. Tahun 2011 cakupan pelayanan ibu 82,79% meningkat menjadi 86,14%, tetapi pada tahun 2013 terjadi penurunan sekitar 1,67% menjadi 84,47%, hal ini perlu mendapat perhatian dari pengelola program untuk meningkatkan cakupan layanan (Dinkes Labuhanbatu, 2013).
  Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan pada bulan Januari – Februari 2015 di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu terdapat jumlah ibu PostSectio Caesaria yang sedang melakukan mobilisasi dini sebanyak 40 orang. Setelah dilakukan wawancara kepada 8 orang ibu PostSectio Caesaria, 2 diantaranya mengetahui tentang mobilisasi dini PostSectio Caesaria dan 6 diantaranya tidak mengetahui tentang mobilisasi dini PostSectio Caesaria.
  Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengetahuan Ibu Post Sectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini PostSectio Caesaria Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang diangkat adalah “Bagaimanakah Pengetahuan Ibu PostSectio CaesariaTentang Mobilisasi Dini PostSectio Caesaria Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015?”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu PostSectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini PostSectio Caesaria Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu PostSectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini PostSectio Caesaria Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015 berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu PostSectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini PostSectio Caesaria Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015 berdasarkan pendidikan.
c.Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu PostSectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini PostSectio Caesaria Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015 berdasarkan pekerjaan.
d. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu PostSectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini PostSectio Caesaria Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015 berdasarkan sumber informasi.
e.Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu PostSectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini PostSectio Caesaria Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015 berdasarkan pengalaman.


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Secara Teoritis
a. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta pengalaman, ilmu terbaru, kemampuan skill dalam melakukan penelitian karya tulis ilmiah.

1.4.2 Secara Praktis
a. Bagi Institusi Pendidikan
Untuk menambah referensi bagi perpustakaan untuk bahan bacaan bagi Mahasiswi Akademi Kebidanan Ika Bina Labuhanbatu dan menambah informasi yang berkaitan dengan mobilisasi dini PostSectio Caesaria.
b. Bagi Petugas Kesehatan Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu
Sebagai bahan informasi dan memacu petugas kesehatan untuk memberikan informasi bagi bidan tentang penatalaksanaan dan manfaat mobilisasi dini PostSectio Caesaria.
c. Bagi Ibu PostSectio Caesaria
Untuk menambah wawasan pengetahuan supaya ibu lebih memahami tentang mobilisasi dini PostSectio Caesaria.
d. Bagi Peneliti Lainnya
Untuk menambah referensi dan perbandingan bagi peneliti lainnya untuk melanjutkan peneliti bagaimana pengetahuan tentang mobilisasi PostSectio Caesaria.

___________________________________________________________________________________

BAB II
TINJAUAN TEORITIS


2.1 Pengetahuan
2.1.1 Pengertian Pengetahuan
      Pengetahuan adalah mendapat hasil “Tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2010).

2.1.2 Tingkat Pengetahuan
      Tingkat pengetahuan yang dicakup didalam hal pokok yang berhubungan kognitif menurut Notoatmodjo, 2010 memiliki 6 tingkatan yaitu :

a. Tahu (know)
Diartikan sebagai kemampuan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah kata kerja untuk mengukur bahwa orang yahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

b. Memahami (Comprehension)
Memahami dapat diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar objek yang diketahui dan dapat menginterprestasi materi tersebut paling benar.

c. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

d. Analisis (Analisys)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau sesuatu objek kedalam komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.

e. Sintensis (Syntensis)
Sintensis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan terhadap suatu teori yang telah ada.

f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek berdasarkan suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada.

2.1.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
a. Umur
Umur adalah individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat dilakukan penelitian, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang berpikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belumcukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya.Semakin tua umur seseorang maka makin bertambah pengetahuannya (Notoatmodjo, 2010).

Menurut Huclok yang dikutip Wawan (2010), semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaanya. Hal ini akan sebagai dari pengalaman dan kematangan jiwa.

b. Pendidikan
Mendidik dan pendidikan adalah kata kerja yang saling berhubungan dari segi bahasa, mendidik adalah kata kerja, pendidikan adalah kata benda, kegiatan mendidik menunjukkan adanya kegiatan yang mengandung manusia. Pendidik adalah suatu proses belajar yang berarti didalam pendidikan yang proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri, kelompok dan masyarakat (Notoatmodjo, 2010).

Wawan (2010), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan. Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi.

c. Pekerjaan
Menurut Candra dalam KTI Fitri Alpiana (2013), pekerjaan adalah jenis dan lapangan pekerjaan yang berhubungan erat dengan status ekonomi, individu, keluarga dan masyarakat.

Pekerjaan merupakan kegiatan formal yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.Pengalaman dan pendidikan seseorang sejak kecil mempengaruhi sikap dan penampilan mereka.Dalam kaitannya makin cocok minatnya dengan jenis pekerjaan yang diembannya, makin tinggi pula tingkat kepuasan yang diperoleh.Seberapa jauh tingkat kemampuan pemilihan pekerjaan bagi seseorang tergantung pada tiga faktor yaitu pengalaman kerja, daya tarik pribadi terhadap pekerjaan, nilai yang terkandung terhadap pekerjaan yang dipilih (Notoatmodjo, 2010).

d. Sumber Informasi
Informasi segala sesuatu yang menjadi perantara dalam penyampaian informasi merangsang pikiran dan kemampuan. Media pendidikan kesehatan adalah alat bantu untuk menyampaikan informasi kesehatan penyebar pesan-pesan kesehatan antara lain : tenaga kesehatan, media elektronik, media cetak atau massa. Komunikasi kesehatan adalah perubahan perilaku kesehatan masyarakat dan selanjutnya perilaku masyarakat yang sehat tersebut akan berpengaruh kepada peningkatan derajat kesehatan masyarakat (Notoatmodjo, 2010)

e. Pengalaman
Pengalaman adalah guru yang baik. Pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. Semua pengalaman pribadi tersebut merupakan sumber pengetahuan kebenaran (Notoatmodjo, 2010)

2.2 Sectio Caesaria
2.2.1 Pengertian Sectio Caesaria
Operasi Caesaria atau sering di sebut dengan Sectio Caesaria adalah melahirkan janin melalui sayatan dinding perut (abdomen) dan dinding rahim (uterus).

Sectio Caesaria adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram.Sectio Caesaria adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat badan diatas 500 gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh (Wiknjosastro, 2005).

Jenis-jenis Sectio Caesariayaitu :
Jenis-jenis Sectio Caesaria menurut Wiknjosastro, 2005 yaitu :
1. Sectio Caesaria klasik (corporal)
Dengan sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm.
2. Sectio Caesaria ismika (profunda)
Dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm.
 
2.2.2 Etiologi
1. Indikasi yang berasal dari ibu yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primipara tua disertai kelainan letak ada, disproporsi sefalo pelvik (janin/panggul), sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul, plasenta previa terutama pada primigravida, solusio plasenta, komplikasi kehamilan yaitu preeclampsia-eklampsia, kehamilan yang disertai penyakit jantung dan DM.

2. Indikasi yang berasal dari janin :
Fetal distress/gawat janin, mal presentasi dan mal posisi kedudukan janin, prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan vakum (Sugeng Jitowiyono, 2012).

2.2.3 Patofisiologi
Sectio Caesaria merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat diatas 500 gram dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh.Indikasi dilakukan tindakan ini yaitu distorsi kepala panggul, disfungsi uterus, distorsia jaringan lunak, plasenta previa dll, untuk ibu sedangkan untuk janin adalah gawat janin. Janin besar dan letak lintang setelah dilakukan SC ibu akan mengalami adaptasi post partum.

Sebelum dilakukan operasi pasien perlu dilakukan anestesi bisa bersifat regional dan umum.Namun anestesi umum lebih banyak pengaruhnya terhadap janin maupun ibu, sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan tidak dapat diatasi dengan mudah.Akibatnya janin bisa mati, sedangkan pengaruhnya anestesi bagi ibu sendiri yaitu terhadap tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah banyak yang keluar.Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang tidak efektif akibat secret yang berlebihan karena kerja otot nafas silia yang menutup.Anestesi ini juga mempengaruhi saluran pencernaan dengan menurunkan morbilitas usus.

2.2.4 Risiko Persalinan Sectio Caesaria
Menurut Suwignyo Siswosuharjo, 2010 :
a. Risiko Bagi Ibu (untuk waktu pendek) :
1. Mual, muntah-muntah, dan menggigil.
2. Merasa kehilangan emosi.
3. Gangguan pada sistem pernapasan.
4. Kejang-kejang.
5. Pusing.
b. Risiko Bagi Ibu (untuk waktu panjang) :
1. Komplikasi sistem saraf.
2. Sakit pada bagian belakang tubuh (bisa menahun).
3. Kehilangan kontrol untuk buang air kecil maupun air besar.
4. Kehilangan sensasi pada bagian perineum (daerah antara vagina dan anus).
 
c. Risiko Bagi Bayi :
1. Kekuatan dan kemampuan gerak otot tubuhnya kurang baik pada jam-jam pertama setelah dilahirkan.
2. Demam karena mengalami penurunan suhu tubuh.

2.3 Nasihat Pasca Operasi Sectio Caesaria
1. Dianjurkan jangan hamil selama kurang lebih satu tahun, dengan memakai kontrasepsi.
2. Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengan pemeriksaan antenatal yang baik.
3. Dianjurkan untuk bersalin dirumah sakit yang besar.
4. Apakah pelahiran selanjutnya harus ditolong dengan Sectio Caesaria bergantung pada indikasi Sectio Caesaria dan keadaan pada kehamilan berikutnya (Amru Sofian, 2012).

2.4 Mobilisasi
2.4.1 Pengertian Mobilisasi
a. Mobilisasi merupakan suatu upaya mempertahankan sedini mungkin dengan cara membimbing penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis dimana kemampuan seseorang untuk berjalan, bangkit, berdiri kembali ke tempat tidur, kursi dan sebagainya disamping kemampuan menggerakkan ekstremitas atas.

b. Mobilisasi ibu Post Sectio Caesaria merupakan suatu pergerakan, posisi atau adanya kegiatan yang dilakukan ibu setelah beberapa jam melahirkan dengan persalinan Caesaria.
Mobilisasi segera secara bertahap sangat berguna untuk proses penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi serta trombosis vena. Bila terlalu dini melakukan mobilisasi dapat mempengaruhi penyembuhan luka operasi.Jadi mobilisasi secara teratur dan bertahap yang diikuti dengan latihan adalah hal yang paling dianjurkan.

Proses penyembuhan luka akan melalui beberapa tahapan yaitu inflamasi, proliferasi, fibroblastik dan maturasi. Kesembuhan luka operasi sangat dipengaruhi oleh suplai oksigen dan nutrisi kedalam jaringan.Oksigen yang berikatan dengan molekul protein hemoglobin diedarkan ke jaringan dan sel-sel tubuh melalui sistem peredaran darah.Oksigen ini berfungsi selain untuk oksidasi biologi juga oksigenasi jaringan (Suparyanto, 2011).

2.4.2 Manfaat Mobilisasi
Menurut Rambey, 2008 :

  1. Melancarkan sirkulasi darah.
  2. Membantu proses pemulihan.
  3. Mencegah terjadinya infeksi yang timbul karena gangguan pembuluh darah balik serta menjaga perdarahan lebih lanjut.
  4. Ibu merasa lebih sehat dan kuat
  5. Kesempatan yang baik untuk mengajari, merawat atau memelihara anaknya.
  6. Mempercepat involusi alat kandungan.

2.4.3 Tahap-tahapan Mobilisasi Dini
Mobilisasi dini dilakukan secara bertahap menurut Kasdu, 2005. Tahap-tahapan mobilisasi dini pada ibu Post Sectio Caesaria :

1. 6 jam pertama ibu Post Sectio Caesaria istirahat tirah baring, mobilisasi dini yang bisa dilakukan adalah menggerakkan lengan, tangan, menggerakkan ujung jari kaki dan memutar pergelangan kaki, mengangkat tumit, menegangkan otot betis serta menekuk dan menggeser kaki.
2. 6-10 jam, ibu diharuskan untuk dapat miring kekiri dan kekanan mencegah trombosis dan trombo emboli.
3. Setelah 24 jam ibu dianjurkan untuk dapat mulai belajar untuk duduk.
4. Setelah ibu dapat duduk, dianjurkan ibu belajar berjalan.

2.4.4 Pelaksanaan Mobilisasi Dini
1. Hari ke 1 :
a. Berbaring miring kekanan dan kekiri yang dapat dimulai sejak 6-10 jam setelah penderita atau ibu sadar.
b. Latihan pernafasan dapat dilakukan ibu sambil tidur terlentang sedini mungkin setelah sadar.

2. Hari ke 2 :
a. Ibu dapat duduk 5 menit dan minta untuk bernafas dalam-dalam lalu menghembuskannya disertai batuk-batuk kecil yang gunanya untuk melonggarkan pernafasan dan sekaligus menumbuhkan kepercayaan pada diri ibu atau penderita bahwa ia mulai pulih.
b. Kemudian posisi tidur terlentang dirubah menjadi setengah duduk.
c. Selanjutnya secara berturut-turut, hari demi hari penderita atau ibu yang sudah melahirkan dianjurkan belajar duduk selama sehari.

3. Hari ke 3 sampai ke 5
a. Belajar berjalan kemudian berjalan sendiri pada hari setelah operasi.
b. Mobilisasi secara teratur dan bertahap serta diikuti dengan istirahat dapat membantu penyembuhan ibu.

Tanggung jawab atas kesehatan diri sendiri, termasuk juga harus dapat mencapai tingkat kemandirian maksimal, dalam hal ini adalah melakukan mobilisasi yang sesuai dengan kondisi pasien.Mobilisasi dini bermanfaat untuk mempertahankan fisik secara optimal, maka sistem saraf, otot dan skeletal harus tetap utuh dan berfungsi dengan baik.

Hanya sebagian besar ibu-ibu Post Sectio Caesaria melakukan mobilisasi dini setelah 6-24 jam pasca operasi, ibu yang tidak mau melakukan mobilisasi dini yang disebabkan oleh beberapa alasan, diantaranya ibu merasa nyeri apabila digerakkan, dan ibu mengatakan takut jahitannya terlepas, seharusnya ibu-ibu PostSectio Caesaria harus bergerak karena akan mencegah trombosis atau trombo emboli dan kekuatan otot-otot sendi sehingga juga mengurangi nyeri, menjamin kelancaran peredaran darah dan mengembalikan kerja fisiologis yang pada akhirnya akan mempercepat penyembuhan (Kasdu, 2005).


_____________________________________________________________________________________


BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Kerangka Konsep
Kerangka konsep memuat teori dan pijakan untuk melakukan penelitian.Uraian dari kerangka konsep menjelaskan hubungan dan keterkaitan antar variabel penelitian. Adapun kerangka konsep dari penelitian yang berjudul “Pengetahuan Ibu Post Sectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini Post Sectio Caesaria Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015” adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1


Variabel Independen (Bebas)                                               Variabel Dependen (Terikat)

· Umur
· Pendidikan
· Pekerjaan
· Sumber Informasi
· Pengalaman

Keterangan : Variabel Independen tidak menghubungkan dengan variabel dependen.

3.2 Definisi Operasional

Defenisi Operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2010).

3.2.1 Pengetahuan adalah hasil tahu ibu PostSectio Caesaria tentang mobilisasi dini Post Sectio Caesaria. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner, dan hasil ukurnya dikategorikan dengan :

1. Baik : Jika jawaban yang benar 14-20 (70-100%)
2. Cukup : Jika jawaban yang benar 8-13 (40-65%)
3. Kurang : Jika jawaban yang benar 1-7 (5-35%)
Skala ukur : Ordinal

3.2.2 Umur adalah lamanya kehidupan seorang ibu PostSectio Caesaria mulai sejak dilahirkan hingga penelitian ini dilakukan. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner, dan hasil ukurnya dikategorikan dengan :
1. 21 – 25 tahun
2. 26 – 30 tahun
3. 31 – 35 tahun
4. 36 – 40 tahun

Skala ukur : Interval

3.2.3 Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang pernah dijalani oleh ibu PostSectio Caesaria. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner, dan hasil ukurnya dikategorikan dengan :

1. Pendidikan Dasar : (SD, SMP) sederajat
2. Pendidikan Menengah : SMA sederajat
3. Pendidikan Tinggi : D-I, D-III, S-I
Skala ukur : Ordinal

3.2.4 Pekerjaan adalah suatu kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh ibu PostSectio Caesaria untuk memperoleh penghasilan maupun tidak. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner, dan hasil ukurnya dikategorikan dengan :

1. Bekerja
a.PNS
b.Pegawai Swasta
c. Wiraswasta

2. Tidak bekerja
a. IRT (Ibu Rumah Tangga)
Skala ukur : Nominal


3.2.5 Sumber Informasi adalah informasi yang diperoleh oleh ibu PostSectio Caesaria tentang mobilisasi dini PostSectio Caesaria. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner, dan hasil ukurnya dikategorikan dengan :

1. Mendapat Sumber Informasi
a. Media cetak : Surat kabar, majalah, spanduk
b. Media elektronik : Televisi, radio, internet
c. Tenaga kesehatan : Dokter, bidan, perawat

2. Tidak Mendapat Sumber Informasi
Skala ukur : Nominal

3.2.6 Pengalaman adalah suatu peristiwa yang sebelumnya pernah / tidak pernah dialami oleh ibu PostSectio Caesaria. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner, dan hasil ukurnya dikategorikan dengan :

1. Pernah Operasi Sectio Caesaria
2. Tidak Pernah Operasi Sectio Caesaria
Skala ukur : Nominal
 
3.3 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu menggambarkan mengenai Pengetahuan Ibu PostSectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini PostSectio Caesaria Di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015.

3.3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015.

3.3.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan dari bulan Januari – Juli 2015 dengan jadwal penelitian sebagai berikut

6.3 Populasi Dan Sampel
6.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian (Notoatmodjo, 2010).

Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh ibu PostSectio Caesaria yang terdapat di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu pada bulan Mei 2015.

6.3.2 Sampel
Sampel adalah suatu proses seleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah sampel akan mewakili keseluruhan populasi yang ada (Aziz Alimul Hidayat, 2007)

Dalam pengambilan sampel digunakan teknik Aksidental Sampling yaitu cara pengambilan sampel yang dilakukan dengan kebetulan bertemu pada ibu PostSectio Caesaria di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu yang menjadi populasi dijadikan sebagai sampel penelitian pada bulan Mei 2015 sebanyak 38 responden.

6.4 Jenis dan Alat Pengumpulan Data
6.4.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder yaitu :
a. Data Primer
Yaitu pengumpulan data yang dilakukan secara langsung dengan cara membagi kuesioner kepada responden yaitu ibu PostSectio Caesaria.

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh langsung dari responden dengan menggunakan kuesionar yaitu kuesioner tertutup.

b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh penelitiannya. Biasanya berupa data dokumentasi atau laporan yang telah tersedia.Keuntungan data sekunder adalah efesiensi tinggi, dengan kelemahan kurang akurat.

6.4.2 Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data adalah kuesioner dengan menggunakan kuesioner tertutup yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih berdasarkan kisi-kisi soal yang berisikan Pengetahuan Ibu PostSectio Caesaria Tentang Mobilisasi Dini PostSectio Caesaria.

Kuesioner adalah sejumlah pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.

6.4.3 Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu yaitu dengan cara membagikan kuesioner kepada ibu Post SC disaat dua hari setelah SC. Sebelum membagikan kuesioner, responden diberi penjelasan terlebih dahulu mengenai tujuan penelitian dan diminta kesediannya untuk dijadikan sampel penelitian. Selanjutnya responden diminta untuk mengisi sendiri kuesioner yang telah disediakan yang berjumlah 20 soal.Dalam pengisian soal peneliti memberikan waktu selama 20 menit.Hasil jawaban dari kuesioner tersebut dikumpulkan pada saat itu juga. Pengumpulan data mulai dilakukan pada tanggal 4 – 23 Mei 2015, yaitu selama 3 minggu dan dalam 1 minggu penelitian dilakukan selama 4 hari yaitu pada hari senin, rabu, jum’at, dan minggu, dalam 1 hari tersebut terdapat 3 – 4 ibu Post SC di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu, pada minggu kedua penelitian pun dilakukan selama 4 hari sampai terkumpul seluruh jumlah responden sebanyak 38 responden.

Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan kuesioner tertutup yaitu beberapa pilihan yang dibuat dalam bentuk pernyataan benar salah, kemudian melakukan scoring.

Dengan rumus :

3.6 Pengolahan dan Teknik Analisa Data
3.6.1 Pengolahan Data
Data yang terkumpul diolah dengan cara manual dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Pengeditan (Editing)
Yaitu dengan melakukan pengecekan kelengkapan data yang telah terkumpul.Setelah dilakukan pengecekan tidak terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam pengumpulan data.

2. Pengkodean (Coding)
Data yang telah diedit dirubah dalam bentuk angka (kode) yaitu nama responden dirubah dengan kode responden.

3. Pemberian Skor (Scoring)
Melakukan pemeriksaan terhadap jawaban responden yang ada dan memberikan skor yang diperoleh pada kuesioner, lalu mengelompokkan sesuai kategori pengetahuan.

4. Tabulasi (Tabulating)
Data yang telah lengkap dan memenuhi kriteria dihitung dan disesuaikan dengan variabel yang dibutuhkan lalu dimasukkan kedalam tabel distribusi frekuensi.


3.6.2 Analisa Data
Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan melihat presentase data yang telah terkumpul dan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan tabulasi silang.Analisa data kemudian dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian dengan menggunakan teori dan kepustakaan yang ada.Selanjutnya adalah apakah hasil scoring tersebut masuk dalam kategori baik, cukup, atau kurang. Presentase dapat diperoleh melalui perhitungan dengan rumus sebagai berikut :

Jumlah Jawaban yang Benar 
______________________ x 100%
Jumlah Soal



Menurut Notoatmodjo (2010) penetapan kategori nilai adalah :
1. Baik : Jika jawaban yang benar 14-20 (70-100%)
2. Cukup : Jika jawaban yang benar 8-13 (40-65%)
3. Kurang : Jika jawaban yang benar 1-7 (5-35%)







View Post
Pengaruh musik pada kehamilan

      Musik diciptakan untuk mempengaruhi kondisi psikologis manusia. Dan manusia adalah makhluk yang kompleks. Setiap musik memiliki elemen dasar, yaitu pitch (frekuensi suara), tempo, timbre (warna suara) dan dinamika. Denyut jantung ibu merupakan stimulus musik pertama yang didengar oleh janin, karena itu, musik yang diperdengarkan untuk tujuan tertentu harus dibuat berdasarkan perindividu.
  Umumnya, kehamilan mempunyai efek pada metabolisme, endokrin serta sistem kardiovaskuler ibu dan janin. Kehamilan tidak hanya menyebabkan perubahan pada pelvis dan abdomen ibu hamil tetapi juga seluruh bagian tubuh.
   Pentingnya stimulus, khususnya musik, akan menyeimbangkan IQ dan EQ janin, bahkan pengaruh besar pada kehidupan kelak. Keseimbangan ini terlihat pada fungsi otak kanan dan otak kiri manusia. Otak kiri berkaitan dengan kemampuan berbicara, mengingat tata bahasa, berfikir secara sistematis, mengendalikan emosi, memandang hidup dengan serius,bekerja dengan fakta, kemampuan menganalisa, berfikir logis, tugas-tugas praktis, daya ingat.
 Sementara otak kanan berhubungan dengan perkembangan kreatif, perasaan, menyatakan emosi, irama musik, memandang hidup dengan santai, berfikir secara global , pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi dan pengembangan kepribadian.
  Saat mendengarkan musik, otak memproses apa yang didengar, detak jantung cenderung mengikuti dengan kecepatan musik Hal ini menjelaskan mengapa saat mendengarkan musik dengan tempo yang tinggi detak jantung meningkat.Saat mendengar musik dengan tampo (bit per menit) yang rendah, misal 55-70 bpm, detak jantung akan melambat dan tubuh akan menjadi rileks.
  Endorfin, yang merupakan zat candu alamiah di otak, akan dilepaskan saat tubuh merasa rileks. Hormon-hormon stres, yang meliputi adreronocorticotrophic (ACTH), prolaktin, dan hormon pertumbuhan (GH), dalam darah akan selaras kadarnya saat mendengarkan musik Keadaan rileks ini akan memperlancar sirkulasi darah ibu dan janin melalui plasenta. Denyut jantung akan mengikuti sinkronasi dengan denyut jantung ibu sebagai sumbur musik pertama yang janin dengar dalam kandungan. Keseimbangan ini harus di jaga dari stres, baik fisik dalam uterus dan penyulit bagi ibu hamil selama kehamilan hingga persalinan bagi ibu.

      Pengaruh musik klasik kepada janinnya
      Musik dan bunyi berpengaruh baik kepada pikiran, emosi dan kondisi kejiwaan seorang wanita hamil, Tingkat stresnya, gairah hidupnya, kecemasannya, atau emosi lainnya secara umum tidak hanya menentukan laju degup jantungnya, kualitas pernafasannya, sikap tubuhnya, dan aspek-aspek fisik lain yang pada gilirannya berpengaruh kepada bayi dalam kandungan, tetapi semua itu juga menyebabkan diproduksinya hormon-hormon yang pada gilirannya berpengaruh kepada bayi dalam kandungannya, tetapi semua itu juga menyebabkan diproduksinya hormon-hormon yang diberikan melalui plasenta dan masuk ke dalam peredaran darah bayi.
    Campuran hormon pada ibu biasanya mencerminkan sikap bahagia, sayang, dan kondisi mental yang relatif santai, campuran itu langsung diberikan kepada bayinya. Apabila hormon-hormonnya sering sekali mencerminkan kondisi ketakutan atau putus asa, bayinya juga menerima pesan tersebut. Dengan cara ini, struktur kimiawi tubuh yang paling mendasar pada bayi dibentuk, sedikit demi sedikit oleh emosi-emosi ibunya.
    Bagi janin, keseimbangan hormonal dan metabolisme akan mempengaruhi pertumbuhan sel-sel. sel-sel ini sebaiknya di stimulasi sejak dini agar dapat tumbuh berkembang secara optimal. Kecerdasan manusia tidak hanya di tentukan semata-mata oleh jumlah sel otak yang dimiliki, tetapi lebih ditentukan oleh beberapa banyak koneksi yang bisa terjadi antara sel-sel otak.




        Manfaat Terapi Musik Klasik
     Menurut mozart Musik bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan kekebalan tubuh kita,karena musik ternyata bersifat terapeutik.
Ada beberapa manfaat musik klasik bagi ibu hamil,yaitu:
  1. Mengubah pola pikir ibu dengan menata pikirannya lebih positif.
  2. Membuat ibu bahagia sehingga hormon seimbang. Keseimbangan hormon membuat kondisi ibu nyaman
  3. Mengoptimalkan tumbuh kembang janin.
  4. Bisa menimbulkan rasa damai, gembira dan pikiran lebih terpusat
  5. Dapat mengubah kesadaran dan menyelaraskan aktifitas otak kanan dan kiri.
  6. Dapat memberikan efek yang positif bagi janin.
  7. Musik klasik diperdengarkan pada bayi prematur selama 40 menit sehari akan menambah berat badan dan memperkuat detak jantung pada hari ke-4.
  8. Dapat memberikan ketenangan bagi ibu dan janin,meningkatkan aktifitas gelombang otak dan membangun jaringan-jaringan sinopsis otak lebih baik.
  9. Stimulasi musik klasik juga bisa digunakan untuk memutar posisi janin yang semula sungsang menjadi normal.
    Menurut H.Farer, musik bisa membantu merangsang kecerdasan anak. Anda tidak harus membatasai diri dengan mendengarkan musik klasik saja. Semua jenis musik ternyata bisa digunakan untuk menstimulasi kecerdasan anak, dan bisa dilakukan sejak masa kehamilan 24 minggu.Stimulasi musik bisa membuat anak memiliki daya ingat yang lebih baik ketika dewasa. Musik klasik memang dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan janin. Hal ini disebabkan oleh adanya interaksi antara perkembangan antara perkembangan sistem saraf dan lingkungan.Menurut para ahli, telah terbukti bahwa bayi yang sejak dalam kandungan selalu diperdengarkan musik klasik,ketika lahir ia lebih cepat merespon atau bereaksi terhadap musik yang biasa didengarnya sewaktu didalam kandungan misalnya dalam musik “Baby Harmony” yang diciptakan oleh Mozart.


   Waktu Pemberian Terapi Musik
  1. Trimester pertama atau awal kehamilan untuk mereduksi mual, terapi dilakukan satu kali dalam seminggu
  2. Trimester kedua, minimal satu kali seminggu agar kehamilan nyaman
  3. Trimester ketiga, tiga kali seminggu, masuk minggu ke 37, terapi dilakukan setiap hari karena stres ibu meningkat, selain itu, mulai minggu ke 37 bayi bisa lahir kapan saja
  4. Saat terjadi kontraksi dan menunggu proses persalinan.

    Proses Terapi Musik Klasik pada ibu hamil yang dilakukan
  1. Ibu diwawancarai oleh pelatih terapi musik klasik untuk mengetahui aktifitas, kondisi emosi, dan pola hidupnya.
  2. Memeriksa tekanan darah.
  3. Masuk ruang kedap suara.
  4. Brain gym untuk memusatkan pikiran, untuk fokus pada diri sendiri dan janin.
  5. Relaksasi progresif untuk membuat ibu santai.
  6. Stimulasi musik untuk ibu dan janin.

       Cara Pelaksanaan Terapi Musik Klasik
       Terapi musik dapat dilakukan dirumah, disaat santai dan dimana saja jaraknya sekitar (50 cm) dari tape jugak dapat menggunakan walkman, usahakan suara (volume) tidak terlalu keras atau lemah, intinya volume tersebut dapat membuat ibu merasa nyaman dan membuat ibu berkonsentrasi penuh, jika mempunyai hearphone, sesekali dapat menempelkan keperut ibu agar janin bisa mendengarkan lebih jelas, ibu boleh berdendang mengikuti melodi atau lirik lagu yang di dengarnya (satiadarma,2008)
    Waktu yang digunakan sekitar 30 menit yang dibagi menjadi relaksasi dan stimulus, stimulus sekitar 15 sampai 20 menit, relaksasi sekitar 10sampai 15 menit, di rumah lama mendengarkan musik yang di anjurkan ibu hamil adalah sekitar 30 menit setiap hari. Untuk memperoleh mendengarkan musik, ibu hamil di anjurkan mendengarkan dengan penuh perhatian dan keasadaran bahwa musk dapat merasuk ke dalam pikiran ibu. Dengan demikian suara harmoni dan irama musik dapat mendorong ibu untuk bergairah, kreatif dan menyenagkan (satiadarma, 2008).


           Stimulasi Dengan musik Klasik Yang Dianjurkan
        Berikut ini ada beberapa 5 alasan mengapa musik Klasik dapat menjadi stimulasi yang sehat dan aman terhadap perkembangan otak, baik bagi anak-anak maupun dewasa.
  1. Musik Klasik dapat menyegarkan, secara fisiologis, musik dapat mengaktifkan hormon endofrin dan meningkatkan vitalitas pernafasan, detak jantung, denyut nadi, dan aktifitas gelombang kita.
  2. Musik Klasik dapat membuat orang selalu optimis, sebanyak apapun seseorang mendengarkan lagu yang membangkitkan semangat, baik yang berlirik maupun insrumental, pesan yang dibawa lagu tersebut serta getarannya akan tetap sama.
  3. Musik Klasik dapat menjadi aman yang baik, musik merupakan teman berlatih yang baik, yang selalu ada didekat kita dan tidak pernah mengeluh kapanpun kita melakukan program latihan harian
  4. Musik Klasik bersifat alamiah, tentu saja jika dimainkan dengan alat musik akustik
View Post