Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis Ilmiah DIII Kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis Ilmiah DIII Kebidanan. Tampilkan semua postingan
ABSTRAK

viii+61 Hal+5 Diagram+4Tabel+ 9 Lamp

Partus Lama merupakan proses dimana ibu sulit melahirkan bayinya dikarenakan adanya beberapa faktor yang menyebabkan bayi lama di jalan lahir.Partus Lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 18 jam yang dimulai dari adanya tanda- tanda persalinan.
Partus Lama akan menyebabkan infeksi,kehabisan tenaga, dehidrasi, perdarahan,dan dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayi.Who menyatakan pada tahun 2005 , di Indonesia angka kematian ibu tergolong tinggi sebesar 37% disebabkan akibat partus lama.
Penelitian ini Bersifat deskriptif bertujuan untuk mengetahui “ Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Partus Lama Di Klinik Bersalin Hj.Nani S,AM. Keb Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015”. Dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Jumlah sampel sebanyak 40 orang dengan menggunakan tekhnik total sampling, variabel yang diteliti yaitu umur, pendidikan, paritas, dan pekerjaan.
Hasil penelitian yang didapat dari 40 ibu hamil yang ditemukan responden ibu hamil mayoritas responden berpengetahuan cukup pada kategori cukup sebanyak 18 ( 45%), dan minoritas berpengetahuan baik sebanyak 9 responden (22,5%).
Dari hasil dan penelitian dapat di simpulkan bahwa pengetahuan ibu hamil tentang partus lama adalah kategori Cukup. Untuk itu diharapkan bagi para ibu hamil agar lebih peduli terhadap kesehatan pada kehamilan agar tidak terjadi bahaya pada saat persalinan dan mengurangi angka kematian ibu dan bayi.


Kata Kunci                    :  Ibu hamil - Partus Lama
Daftar Pustaka              : 13 (2005  - 2010)

_____________________________________________________________________________________________


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Partus lama merupakan salah satu dari beberapa penyebab kematian ibu dan bayi baru lahir.Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 18 jam yang dimulai dari tanda-tanda persalinan.

Partus lama akan menyebabkan infeksi,kehabisan tenaga,dehidrasi pada ibu,kadang dapat terjadi perdarahan post partum yang dapat menyebabkan kematian ibu.Pada janin akan terjadi infeksi,cedera dan asfiksia yang dapat meningkatkan kematian bayi.

Angka kematian ibu (AKI) di dunia berdasarkan data Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun2009 didapatkan bahwa dalam setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan proseskehamilan dan persalinannya.(http://skripsipedia.host56.Com/tag/jurnal-kebidanan-hubungan-partus-lama-dengan-kejadian-asfiksia/).

Menurut World Health Organization(WHO) melaporkan pada tahun 2008 terdapat 536.000 wanita hamil meninggal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan di seluruh dunia. Angka Kematian Ibu (AKI) di Sub-sahara Afrika 270/100.000 kelahiran hidup. Asia Tenggara 35/100.000. Berdasarkan laporan WHO pada tahun 2005, di Indonesia angka kematian ibu tergolong tinggi yaitu 420/100.000 kelahiran hidup dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Penyebab utama kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi, eklamsi, partus lama dan komplikasi abortus. 

Di Asia, jumlah kematian ibu diperkirakan telah menurun dari 315.000 ke 139.000 antara tahun 1990-2008, oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), United Nations Children’s Fund (Unicef),yang United Nations Population Fund (UNFPA) dan Bank Dunia.Angka Kematian Ibu di Indonesia tertinggi di ASEAN. Di Indonesia Angka Kematian Ibu berkisar 228 per 100.000 kelahiran. Sebagaimana dinyatakan oleh WHO melalui Laporan Kesehatan Dunia 2005 beberapa penyebab kematian ibu adalah partus lama (37%), perdarahan (25%), infeksi (13%), aborsi tidak aman (13%), eklampsia (12%).Walaupun sebelumnya Indonesia telah mampu melakukan penurunan dari angka 300 per 100.000 kelahiran pada tahun 2004. Padahal berdasarkan Sasaran Pembangunan Milenium atau Millenium Development Goal (MDG), kematian ibu melahirkan ditetapkan pada angka 103 per 100.000 kelahiran.Partus Lama sering terjadi akibat terlalu banyak anak, partus pada usia dini atau lanjut, jarak persalinan terlalu rapat, kehamilan pertama yang dikaitkan terjadinya CPD (Chepalo PelvisDisproporsi), tinggi badan < 150 cm, ukuran panggul yang kecil, riwayat persalinan jelek dan petugas kesehatan tidak terlatih untuk mengenali persalinan macet yang menyebabkan tingginya risiko kematian bayi.

Partus Lama akan menyebabkan infeksi, kehabisan tenaga, dehidrasi pada ibu, kadang dapat terjadi atonia uteri yang dapat mengakibatkan pendarahan post partum. http://www.bascommetro.com/2010/10/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-partus.html

Menurut Depkes tahun 2010, ibu partus lama yang rawat inap di Rumah Sakit di Indonesia diperoleh proporsi 4,3% yaitu 176 dari 281.050 persalinan dan CFR ibu akibat partus lama 0,7%.Dari hasil penelitiandi RS Pemerintah Karachi tahun 2008-2009 diperoleh proporsi partus tak maju 2,6% yaitu 118 kasus dari 4.500 persalinan.Hasil penelitian Gessessew dan Mesfin di RS Adigrat Zona tahun 2005 diperoleh proporsi partus lama 3,3% yaitu 195 kasus dari 5.980 persalinan dan CFR ibu akibat partus lama 3,6%.(Depkes,2010)

Proporsi penyebab partus lama yaitu CPD 64,9%, presentasi abnormal 32,5%, abnormalitas pada janin 2,1% dan mioma 0,5%. Hasil penelitian Rusydi di RSUP Palembang tahun 2006-2007 diperoleh proporsi partus lama 3,3% yaitu 350 kasus dari 10.593 persalinan. Hasil penelitian di RSU Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara tahun 2009, di Tapanuli Utara diperoleh proporsi partus lama 14,1% yaitu 30 dari 73 kasus kedaruratan obstetri. Kasus kedaruratan obstetri di Deli Serdang diperoleh proporsi partus lama 56% yaitu 37 dari 66 kasus kedaruratan obstetri.Dari hasil penelitian Abdi di RSIA Badrul Aini Medan tahun 2005-2006 diperoleh proporsi partus lama 12,7% yaitu 411 kasus dari 3.225 persalinandan CFR bayi akibat partus lama 0,2%. ( http: // skripsipedia. host56. Com /tag / jurnal- kebidanan-hubungan-partus-lama-dengan- kejadian- asfiksia/)

Sementara itu, dari survey yang telah dilakukan peneliti di klinik bersalin Hj.Nani S.AM,Keb banyak terdapat ibu melahirkan yang mengalami partus lama hampir mencapai 70% dari kelahiran normal biasanya. Data tersebut diambil dari bulan Januari- Maret 2015.

Jumlah kematian ibu di labuhanbatu pada tahun 2012 sebesar 33 kasus kematian menurun tahun 2013 menjadi 16 kematian ibu maternal. Sementara itu jumlah kematian bayi di kabupaten labuhanbatu mengalami naik turun dari tahun 2009-2013. Jumlah kematian bayi tahun 2012 sebesar 94 orang,sedangkan tahun 2013 meningkat menjadi 102 orang.

(Dinkes L.batu 2013).

Berdasarkan survei awal yang peneliti lakukan pada bulan Januari 2015 di Klinik Bersalin Hj.Nani S.AM. Keb di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu,Hasil wawancara yang dilakukan pada 10 orang ibu hamil 5 diantara nya telah mengetahui tentang partus lama,sedangkan 5 orang tidak mengetahui apa itu partus lama.

Dari uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pengetahuan ibu hamil tentang partus lama di Klinik Bersalin Hj.Nani S,AM. Keb Kelurahan Padang BulanKecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu tahun 2015.


1.2.Perumusan Masalah

Bagaimanakah Pengetahuan Ibu hamil Tentang Partus lama di klinik Bersalin Hj.Nani S.AM.Keb di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu tahun 2015?

1.3.Tujuan 
1.3.1.Tujuan Umum

Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Hamil tentang Partus Lama di Klinik Bersalin Hj.Nani S,AM.Keb di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang partus lama di Kabupaten Labuhanbatu tahun 2015 


1.3.2.Tujuan Khusus

a. .Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang partus lama berdasarkan Umur.

b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang partus lamaberdasarkan Pendidikan.

c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang partus lama berdasarkan Paritas.

d. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang partus lama berdasarkan Pekerjaan.


1.4.Manfaat Penelitian
1.4.1.Secara Teoritis

Untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat selama masa pendidikan dan dari hasil penelitian dibidang kebidanan khususnya tentang Pengetahuan Ibu hamil Tentang Partus Lama di klinik Bersalin Hj.Nani S.AM,Keb.


1.4.2.Secara Praktis
1.4.2.1 Bagi Ibu Hamil

Memberikan Informasi kepada ibu hamil agar ibu hamil bisa mengetahui sedini mungkin tentang partus lamadi klinik Bersalin Hj.Nani S.AM.Keb di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015


1.4.2.2 Bagi Pendidikan

Sebagai bahan referensi atau bacaan bagi mahasiswi di perpustakaan Akademi Kebidanan Ika Bina Labuhanbatu mengenai Partus Lama.


1.4.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai sumber bacaan dan bahan masukan bagi peneliti berikutnya yang berminat untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai partus lama.


1.4.2.4 Bagi Tempat Penelitian

Untuk menambah wawasan dan sebagai informasi kepada para bidan dan penolong persalinan di Klinik Hj. Nani S, AM.Keb tentang penanganan partus lama pada ibu hamil di klinik tersebut.



_____________________________________________________________________________________________



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Kerangkap Konsep

Kerangka konsep penelitian pada dasarnyaadalah suatu uraian dari visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya atau antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti ( Notoatmodjo,2010 )

Adapun kerangka konsep pada penelitian ini adalah pengetahuan ibu hamil tentang partus lama di kelurahan padang bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu tahun 2015 adalah sebagai berikut :


Gambar 3.1


Variabel Bebas                                       variabel Terikat







Keterangan : kerangka konsep tidak menghubungkan variabel bebas dan variabel terikat



3.2 Defenisi Operasional

Definisi Operasional adalah mendefenisikan Variabel secara Operasional berdasarkan karakteristik yang diamati yang memungkinkan peneliti melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena ( Hidayat,2007).

Adapun defenisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

3.2.1 Pengetahuan

Pengetahuan adalah pengetahuan ibu hamil tentang partus lama yang dinilai dari jawaban terhadap pertanyaan yang di ajukan. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner, dan hasilnya dikategorikan dengan :

a. Baik : Jika jawaban responden benar 21 – 30 ( 68 – 100% )
b. Cukup : Jika jawaban responden benar 11 – 20 ( 34 – 67% )
c. Kurang : Jika jawaban responden benar 1 – 10 ( 0 – 33% )

Alat Ukur : Kuesioner 
Skala ukur : Ordinal

3.2.2 Umur

Umur adalahusia responden yang terhitung sejak lahir hingga ulang tahun terakhir dilakukan penelitian dengan kategori :

Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner dengan kategori :

a. 17-21 tahun
b. 22-26 tahun
c. 27- 31 tahun
d. 32- 36 tahun
Skala ukur : Interval

3.2.3 Pendidikan 

Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang dilalui ibu hamil yang dapat dilihat dengan ijazah terakhir.

Alat ukur :Kuesioner
Skala ukur:Ordinal

1.Pendidikan dasar : (SD,SMP) Sederajat
2.Pendidikan Menengah : SMA/Sederajat
3.Pendidikan Tinggi :DI, DIII,S1

3.2.4 Paritas

Jumlah anak yang dilahirkan oleh ibu baik hidup maupun meninggal.
Diukur dengan menggunakan kategori:

1.Primipara : Kehamilan pertama
2.Scundipara : Kehamilan Kedua
3.Multipara : Kehamilan ke 3
4.Grandepara : Kehamilan ≥ 3

Skala Ukur : Ordinal
Alat Ukur : Kuesioner


3.2.5 Pekerjaan

Pekerjaan adalah Kegiatan atau kebiasan yang dilakukan ibu hamil setiap harinya baik yang menghasilkan pendapatan atau pun yang tidak menghasilkan pendapatan.

Alat Ukur : Kuesioner
Skala Ukur : Nominal

a. Bekerja : Wiraswasta dan PNS
b. Tidak Bekerja : Ibu Rumah Tangga

3.3 Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian Deksriptif yaitu untuk menggambarkan pengetahuan ibu hamil tentang partus lama di Klinik Bersalin Hj.Nani S. AM.Keb Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu.

3.4Lokasi dan Waktu Penelitian
3.4.1 Lokasi Penelitian

Adapun Lokasi Penelitian yang dipilih adalah Klinik Bersaln Hj.Nani S.AM.Keb Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu pada tahun 2015

3.4.2 Waktu Penelitian

Waktu Penelitian dilakukan di Klinik Bersalin Hj.Nani S. AM.Keb Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu pada bulan Januari 2015 -Juli2015



3.5.Populasi dan Sampel
3.5.1Populasi


Populasi adalah Kumpulan objek yang menjadi objek penelitian.Populasi yang ada dalam penelitian ini adalah semuaibu hamil yang datang Ke Klinik Hj. Nani S. AM,Keb Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu untuk memeriksakan kehamilan nya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di Klinik Bersalin Hj. Nani S, AM. Keb di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu dari bulan Mei-Juni 2015 berjumlah 40 orang.


3.5.2. Sampel
Sampel adalah bagian populasi yang akan di teliti atau sebagian jumlah dari karakteristikyang dimiliki oleh populasi.(Aziz,2007). Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 sampel dengan lama pengambilan sampel selama 2 minggu.

Maka cara pengambilan sampel adalah Total Sampling, karena keseluruhan populasi yang diteliti berjumlah 40 orang ibu hamil.


3.6 Jenis dan Alat Pengumpulan Data
3.6.1 Jenis Data

a.Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung oleh orangyang melakukan penelitian (Hidayat, 2007). Dalam penelitian ini data primer di dapatkan melalui kuesioner yang dibagi langsung kepada responden atau ibu hamil.

b.Data sekunder adalah data yang di dapat secara tidak langsung dari responden (Hidayat, 2007). Dalam hal ini data sekunder diperoleh peneliti dari Klinik Bersalin Hj. Nani, S. AM.Kebadalah data ibu hamil.

3.6.2. Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan di Klinik bersalin Hj. Nani S. AM.Keb dikelurahan padang bulan kecamatan Rantauutara kabupaten labuhanbatu yaitu dengan cara membagikan kuisioner pada ibu hamil disaat pemeriksaan kehamilannya. Sebelum membagikan kuesioner responden diberi penjelasan terlebih dahulu mengenai tujuan penelitian dan diminta kesediannya untuk dijadikan sampel penelitian. 

Selanjutnya responden diminta untuk mengisi sendiri kuesioner yang telah disediakan yang berjumlah 30 soal. Hasil jawaban dari kuesioner tersebut dikumpulkan pada saat itu juga. Pengumpulkan data dilakukan selama 2 minggu. Dimana dalam 1 minggu diambil 3 hari untuk melakukan penelitian.Penelitian ini dilakukan pada jam 15.00 - 18.00 WIB.Jika jumlah penelitian belum mencukupi sampel batas waktu yang di tentukan maka peneliti menmabah waktu penelitian menjadi 2 minggu.

3.7 Pengumpulan Data dan Teknik Analisa Data
3.7.1. Pengolahan Data

Data yang telah terkumpul diolah dengan cara manual dengan langkah sebagai berikut :

1. Editing ( Pengeditan )
Pada langkah ini penelitian melakukan pengecekan kelengkapan yang telah terkumpul sehingga dapat memberikan hasil dan masalah yang diteliti.

2. Coding(Pengkodean)
Setelah data diperiksa kemudian memberikan kode tertentu di setiap responden sesuai dengan variabel yang diteliti,mengelompokannya untuk mempermudah pengelolaan data.

3. Scoring ( Pemberian skor )
Melakukan pemeriksaan terhadap jawaban responden yang ada dan memberikan skor yang diperoleh pada kuesioner,lalu mengelompokan sesuai dengan kategori pengetahuan.

4.Tabulating (Tabulasi)
Untuk mempermudah analisis data serta mengambil kesimpulan.Data yang dimasukan kedalam bentuk tabel distribusi frekuensi.


3.7.2. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian ini bersifat Deskriptif dengan melakukan pengukuran terhadap masing-masing jawaban responden. Data yang terkumpul disajikan dengan tabel distribusi frekuensi kemudian dicari besarnya presentasi untuk masing-masing jawaban responden.Analisa data kemudian dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian dengan menggunakan teori dan keputusan yang ada,selanjutnya adalah apakah hasil tersebut masuk dalam kategori baik,cukup,atau kurang.Penetapan kategori ini adalah sebagai berikut :

Jumlah jawaban yang benar x 100
______________________________
Jumlah soal


a. Baik : Apabila mendapatkan nilai 68 – 100%, jika jawaban yang benar 21 – 30 soal.

b. Cukup : Apabila mendapatkan nilai 34 – 67%, jika jawaban yang benar 11 – 20 soal.

c. Kurang : Apabila mendapatkan nilai ≤33%, jika jawaban yang benar 1 – 10 soal.
View Post
ABSTRAK


viii+61 halaman + 4 diagram + 4 tabel + 13 lampiran

Penyakit HIV/AIDS merupakan virus yang memperlemah system kekebalan tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan infeksi/mudah terkena penyakit. Tanda gejala HIV/AIDS berupa demam, dingin, keringat malam, diare dan kehilangan berat badan. Di Indonesia penderita terbanyak kasus HIV/AIDS yaitu daerah DKI Jakarta, Jawa Barat, Medan, Jawa Timur, Papua dan Bali. Sekitar 75% terjangkit HIV/AIDS pada usia remaja akibat pergaulan bebas. Dampak seks diluar nikah tidak saja berakibat kehamilan, tetapi juga penularan penyakit kelamin termasuk HIV/AIDS.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan Remaja Tentang HIV/AIDS di SMA Kemala Bhayangkari II Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015 Jenis penelitian adalah deskriptif. Data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder, populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Kemala Bhayangkari II. Jumlah sampel sebanyak 92 siswa dan teknik pengambilan sampel dengan cara Cluster Sampling. 

Hasil yang diperoleh responden yang berpengetahuan baik sebanyak 25 responden (27,17%), responden yang berpengetahuan cukup sebanyak 40 responden (43,48%), responden yang berpengetahuan kurang sebanyak 27 responden (29,35%). Berdasarkan umur mayoritas berpengetahuan cukup terdapat pada responden yang dikatagorikan remaja akhir (17-19 tahun) sebanyak 22 responden (23,91%), responden yang mendapatkan pengalaman mayoritas cukup sebanyak 26 responden (28,26%), responden yang mendapat sumber informasi mayoritas cukup sebanyak 27 responden (29,35%).

Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa remaja di SMA Kemala Bhayangkari II Rantau Utara adalah mayoritas berpengetahuan cukup namun masih ada remaja yang berpengetahuan kurang. Untuk itu diharapkan meluangkan waktu untuk mencari informasi tentang kesehatan khususnya tentang HIV/AIDS, bagi sekolah SMA Kemala Bhayangkari II Rantau Utara Penelitian ini dapat berguna sebagai salah satu bahan bacaan bagi siswa-siswi dan referensi di perpustakaan SMA Kemala Bhayangkari II Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu


Kata Kunci : Pengetahuan-Remaja-HIV/AIDS
Daftar pustaka : 24 (2006-2013)

_____________________________________________________________________________




BAB I
PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang
     HIV/AIDS (Human Immuno deficiency Virus / Acquired Immuno Deficiency Syndrome). Merupakan masalah kesehatan di dunia sejak tahun 1981, penyakit ini berkembang secara pandemik. Obat dan Vaksin untuk mengatasi masalah tersebut belum ditemukan, yang dapat mengakibatkan kerugian tidak hanya di bidang kesehatan tetapi juga di bidang sosial, ekonomi, politik, budaya dan demografi (Depkes RI 2008).


Penyakit infeksi HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia Terdapat hampir keseluruh dunia tanpa kecuali Indonesia. Masalah yang berkembang sehubungan dengan penyakit infeksi HIV/AIDS adalah angka kejadian yang cenderung terus meningkat dengan angka kematian yang tinggi (Nasronudin, 2007).


Virus HIV menyerang salah satu jenis sel darah putih yang berfungsi untuk kekebalan tubuh. Virus HIV ini ditemukan dalam darah, cairan sperma dan ASI ( Anik Maryunani dkk,2009).


AIDS (Acquired Immune Defesiency syndrom) merupakan kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh yang dibentuk setelah lahir, jelasnya AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang didapat tetapi di sebabkan oleh virus HIV.


Dari data tersebut terlihat bahwa penderita HIV/AIDS terbanyak berada pada usia produktif, dimana seharusnya masih bias untuk melakukan hal-hal yang positif. Pemerintah dalam hal ini kementerian kesehatan sudah banyak menghibau melalui media cetak maupun elektronik agar menjaga diri untuk tidak tertular atau menular penyakit mematikan ini ( Pudji,2012 ). 


Remaja Indonesia ini nampak lebih bertoleransi terhadap gaya hidup seksual pranikah. Misalnya, penelitian yang dilakukan untuk memperkuat gambaran adanya peningkatan resiko pada perilaku seksual kaum remaja yang mengindikasikan bahwa 5-10% pria muda usia 15-24 tahun yang tidak/belum menikah, telah melakukan aktifitas seksual yang beresiko. Selain itu penelitian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan aktifitas seksual dikalangan kaum remaja, tidak diiringi dengan peningkatan pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi termasuk HIV/AIDS, penyakit menular seksual (PMS) dan alat-alat kontrasepsi (Suryoputro, 2006). 


Berdasarkan cara penularannya, seks bebas atau bergonta ganti pasangan masih menjadi nomor satu dalam menyumbang angka penderita HIV/AIDS. Sementara itu jika dilihat dari kelompok umur, kasus AIDS terjadi pada kelompok umur 18-29 tahun yakni sebesar 46,4%, disusul kelompok umur 30-39 tahun 31,5% dan kelompok umur 40-49 tahun 9,8% ( Pudji,2012).

Lebih dari 34 juta orang sekarang hidup dengan HIV/AIDS, 3,3 Juta di antaranya berada di bawah usia 15 tahun. Pada tahun 2011, sekitar 2,5 juta orang yang baru terinfeksi HIV. 330.000 berada di bawah usia 15 tahun. Setiap hari hampir 7.000 orang tertular HIV/AIDS pada tahun 2011, 1,7 juta orang meninggal karena AIDS. 230.000 dari mereka di bawah usia 15 tahun. Sejak awal epidemi, lebih dari 60 juta telah terinfeksi HIV dan hampir 30 juta telah meninggal terkait HIV (Dino Mansur,2012).


Selain disebabkan oleh perilaku seksual, HIV/AIDS bisa disebabkan oleh penggunaan narkoba suntik. Kemungkinan terjadinya peningkatan kejadian HIV/AIDS, khususnya pada remaja merupakan suatu ancaman sekaligus tantangan karena semakin banyaknya pengguna narkoba usia remaja. Di Indonesia, jumlah pengguna narkoba sekitar 35% adalah siswa SMA dan 30% siswa SMP. Kondisi ini juga berhubungan dengan jumlah penderita HIV/AIDS sekitar 80% adalah remaja usia 18-28 tahun (Rahayuwati, 2009). 


Menurut World Health Organization (WHO) dilaporkan bahwa pada tahun 2012 terdapat 3,5 juta orang di Asia Tenggara hidup dengan HIV/AIDS. Beberapa Negara seperti Myanmar, Nepal dan Thailand menunjukkan Tren penurunan untuk infeksi baru HIV, hal ini dihubungkan salah satunya dengan diterapkannya program pencegahan HIV/AIDS melalui program Condom use 100 persen (CUP). Trend kematian yang disebabkan oleh AIDS antara tahun 2002 sampai 2011 berbeda disetiap bagian Negara. Di Eropa Timur dan Asia Tengah sejumlah orang meninggal karena AIDS meningkat dari 7.800 menjadi 90.000, di Timur Tengah dan Afrika Utara meningkat dari 22.000 menjadi 35.000, di Asia Timur juga meningkat dari 24.000 menjadi 56.000 (WHO, Progress Report 2011).


Dari 3795 jumlah penderita HIV/AIDS tersebut 2853 diantaranya diderita laki-laki dan 942 lainnya perempuan. Sedangkan usia anak yang terinfeksi HIV/AIDS yakni 53 diantaranya mengidap HIV dan 16 lainnya AIDS dengan total penderita anak-anak mencapai 69 penderita. Sesuai data diatas, keprihatinan semakin meningkat dengan terjadinya peningkatan penularan HIV dikalangan resiko rendah yakni perempuan dan anak ( Pudhi,2012 ).


Menurut data dari Direktorat Jendral Penanggulangan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI hingga bulan Juni 2011, tercatat anak penderita HIV/AIDS terdapat 742 kasus. Dari angka ini terlihat peningkatan dua kali lebih tinggi di bandingkan tiga tahun sebelumnya, yang hanya 351 kasus. Sedangkan pada tahun 2012, kasus AIDS yang terjangkit pada perempuan ditemukan sebanyak 8.970 kasus. Pencegahan HIV/AIDS sedini mungkin tak hanya menurunkan jumlah penderita, tetapi juga turut membantu pemerintah mencapai Indonesia sehat (MDGS) di tahun 2015 ( Muhammad Hasid,2011 ).


Secara nasional jumlah penderita penyakit HIV/AIDS di Indonesia mencapai 26.483 kasus per juni 2012. Bahkan baru –baru ini kementerian kesehatan mengeluarkan data yang mengejutkan soal penderita HIV/AIDS. Di perkirakan sebanyak lebih dari 200.000 penduduk Indonesia menderita penyakit HIV/AIDS. Daerah penderita terbanyak di DKI Jakarta, Jawa Barat, Medan, Jawa Timur, Papua, dan Bali.


Berdasarkan data yang dihimpun dinas kesehatan Provinsi Sumatra Utara menyebutkan, penularan HIV/AIDS pada ibu rumah tangga tersebut mencapai 0,38 % penderita dan penularan pada perinatal atau ibu HIV ke anak sebesar 0,71% dan penderita remaja 6,1% dari data kasus HIVAIDS kumulatif dari Dinkes Provsu hingga september 2012 dari 26 kabupaten/kota berjumlah 3795 kasus dengan perincian HIV 1375 kasus dan AIDS 2420 kasus.


Di Kabupaten Labuhanbatu tercatat Januari sampai November 2013 tercatat Peningkatan kasus HIV/AIDS terjadi setiap tahunnya. Pengidap HIV/AIDS yang terdektesi adalah sebanyak 18 penderita HIV dan penderita AIDS sebanyak 7 penderita yang ditemukan di Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2013 selanjutnya khusus pada tahun 2014 distribusi kasus HIV/AIDS berdasarkan faktor resiko jenis kelamin dapat diketahui bahwa perbandingan kasus HIV/AIDS pada penduduk laki-laki dan perempuan terlihat perbedaan cukup bermakna dengan perbandingan 19 laki-laki berbanding dengan 6 perempuan, atas rasio kejadian HIV/AIDS sebesar 3:1 yaitu 3 laki-laki dan 1 perempuan selanjutnya sampai dengan tahun 2013 yaitu 25 kasus HIV/AIDS. Hal ini menunjukan penurunan dari tahun 2012 yaitu 32 kasus HIV/AIDS. Sedangkan jumlah kematian akibat AIDS tercatat tahun 2013 sebanyak 7 kasus dari 7 penderita AIDS. Penderita IMS tercatat 3.588 kasus (Dinkes Labuhanbatu).


Dari survei awal yang dilakukan oleh peneliti pada bulan Januari 2015 Di SMA Kemala Bhayangkari II Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu diperoleh data remaja 463 orang terdiri dari kelas X ,XI, XII. Dari hasil wawancara diperoleh data bahwa dari 10 remaja diketahui sebanyak 3 orang mengerti tentang HIV/AIDS dan 7 orang kurang mengerti tentang HIV/AIDS. 


Berdasarkan hasil survei di atas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian selanjutnya mengenai pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di SMA Kemala Bhayangkari II Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015.






1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di SMA Kemala Bhayangkari II Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015”



1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum


Untuk mengetahui pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di SMA Kemala Bhayangkari Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015.



1.3.2 Tujuan Khusus
  1. Untuk mengetahui pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS pada siswa SMA Kemala Bhayangkari berdasarkan umur
  2. Untuk mengetahui pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS pada siswa SMA Kemala Bhayangkari berdasarkan pengalaman
  3. Untuk mengetahui pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS pada siswa SMA Kemala Bhayangkari berdasarkan sumber informasi




1.4. Manfaat Penelitian

       Adapun manfaat penelitian dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah :


1.4.1 Manfaat Teoritis

     Untuk menambah dan meningkatkan wawasan atau pengetahuan sehingga peneliti mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS.


1.4.2 Manfaat Praktis

1.4.2.1. Bagi Peneliti

Untuk menambah wawasan, pengetahuan dan sebagai wadah dalam mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama pendidikan, khususnya mengenai HIV/AIDS.


1.4.2.2. Bagi Remaja 

        Sebagai informasi kepada remaja untuk menambah wawasan lebih jauh tentang pengertian dan bahaya HIV/AIDS.


1.4.2.3. Bagi institusi Pendidikan

          Sebagai bahan bacaan dan referensi bagi mahasiswa Akademi Kebidanan Ika Bina Labuhanbatu mengenai HIV/AIDS.


1.4.2.3 Bagi Sekolah SMA Kemala Bhayangkari II Rantau Utara 
          Penelitian ini dapat berguna sebagai salah satu bahan bacaan bagi siswa-siswi dan referensi di perpustakaan SMA Kemala Bhayangkari II Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu

_____________________________________________________________________________


BAB III
METODE PENELITIAN


3.1. Kerangkap Konsep

   Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah suatu uraian dari visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya atau antara variable yang satu dengan variable yang lain dari masalah yang ingin diteliti ( Notoadmodjo, 2010 )

Adapun kerangka konsep pada penelitian ini adalah :




Bagan 3.1
Kerangka Konsep


      Variabel Bebas                                                           Variabel Terikat
(  variabel independen )                                              ( variabel dependen )


Keterangan  : kerangka konsep tidak menghubungkan variabel independen dan dependen.


3.2. Defenisi Operasional

   Defenisi Operasional bermanfaat untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel–variabel yang diamati/diteliti. Defenisi Operasional ini juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel–variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrument (alat ukur).

Adapun definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :



3.2.1 Pengetahuan 
        Pengetahuan adalah pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS yang dinilai dari jawaban terhadap pertanyaan yang di ajukan. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner, dan hasilnya dikategorikan dengan :

a. Baik : Jika jawaban responden benar 21 – 30 ( 70 – 100% )
b. Cukup : Jika jawaban responden benar 11 – 20 ( 37 – 67% )
c. Kurang : Jika jawaban responden benar 1 – 10 ( > 33% )
Skala ukur : Ordinal


3.2.2 Umur
       Umur adalah usia responden yang terhitung sejak lahir hingga ulang tahun terakhir. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner dengan kategori :

a. 14 – 16 tahun

b. 17 – 19 tahun

Skala ukur : Interval


3.2.3 Pengalaman 
       Suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner dengan kategori :

a. Ada
b. Tidak ada

Skala ukur : Nominal


3.2.4 Sumber Informasi
     Sumber informasi adalah pesan atau informasi yang diperoleh remaja tentang HIV/AIDS. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner dengan kategori :

a. Ada
b. Tidak ada

Skala ukur : Nominal


3.3. Jenis Penelitian


Jenis Penelitian ini adalah menggunakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS.



1.4. Lokasi dan Waktu Penelitian

1.4.1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilaksanakan di SMA Kemala Bhayangkari ll Jl. Cik Ditiro Kompleks Polres Labuhanbatu Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu.



3.4.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari - Juni



3.5. Populasi dan Sampel

3.5.1. Populasi
      Populasi merupakan keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam suatu penelitian. Penentuan sumber data dalam suatu penelitian sangat penting dan menentukan keakuratan hasil penelitian (Saryono,2010 ).

Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa SMA Kemala Bhayangkari Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu tahun 2015 yaitu sebanyak 463 orang.

3.5.2. Sampel
     Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Dalam penelitian ini pengambilan sampel menggunakan cara Cluster Sampling ( Pengambilan sampel secara kelompok atau gugus ). Gugusan atau kelompok yang diambil sebagai sampel terdiri dari tiga kelompok yaitu kelas 1, 2 dan 3.

Jumlah populasi dalam masing – masing gugus/kelompok adalah :

a. Kelas 1 berjumlah : 232 siswa
b. kelas II berjumlah : 82 siswa
c. kelas III berjumlah : 149 siswa

Untuk mendapatkan besarnya sampel dari masing – masing gugus/kelompok digunakan rumus :

N
___________
1+(N.e2)

Keterangan :

N = Jumlah populasi dalam gugus/kelompok

n = Jumlah sampel 

20 % = ketentuan yang dapat digunakan dalam pengambilan sampel

( Soekidjo Notoatmodjo, 2010 ) 


Jadi jumlah keseluruhan sampel yaitu : 46 + 16 + 30 = 92 siswa. 

Penentuan sampel dilakukan secara acak sederhana/ simple random sampling yaitu dengan cara lotre teknik atau undian.



3.6. Alat Pengumpulan Data
     Data responden diperoleh dengan menggunakan alat pengumpul data berupa kuesioner dengan menggunakan pernyataan yang sudah dilengkapi dengan pilihan benar/salah untuk mempermudah responden dalam menjawab kuesioner.

Cara pembuatan kuesioner berdasarkan pada kisi – kisi soal yang berisikan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS.


3.7. Jenis dan cara Pengumpulan Data
3.7.1 Jenis – jenis Data
     Pada dasarnya penelitian merupakan proses penarikan kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan. Tanpa adanya data, maka hasil penelitian tidak akan terwujud dan penelitian tidak akan berjalan. Data dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Data primer 
   Data yang langsung di peroleh peneliti melalui wawancara dan kuesioner yang dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan konsep teoritis yang terdiri dari 30 pertanyaan yang diisi oleh remaja SMA Kemala Bhayangkari II Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu.

2. Data Sekunder
  Data sekunder disebut juga data tangan kedua. Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari objek penelitiannya. Biasanya berupa data dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia.

Data sekunder dalam penelitian berupa data jumlah siswa yang didapatkan dari absensi.


3.7.2. Cara Pengumpulan Data
        Sebelum membagikan kuesioner terlebih dahulu peneliti akan meminta izin kepada kepala sekolah atau guru setelah itu meminta untuk mengumpulkan remaja diruang kelas kemudian menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan, setelah ada kesempatan dilanjutkan dengan penjelasan kuesioner serta meminta responden untuk mendatangani persetujuan menjadi responden ( Informed Consent ) kemudian kuesioner dibagikan kepada responden dan diberikan waktu selama 30 menit.

Setelah selesai menjawab seluruh pertanyaan, kuesioner dikumpulkan kembali untuk diperiksa kelengkapan jawaban responden, jawaban yang telah diisi seluruhnya secara langsung dikumpulkan. Sedangkan jika ada jawaban yang belum lengkap, responden diminta mengisi jawaban yang belum terjawab tersebut.


3.8 . Pengumpulan Data dan Teknik Analisa Data
3.8.1 Pengolahan Data
      Data yang telah terkumpul diolah dengan cara manual dengan langkah sebagai berikut 
1. Pengeditan ( Editting )
  Pada langkah ini peneliti melakukan pengecekan kelengkapan data yang telah terkumpul sehingga dapat memberikan hasil dan masalah yang diteliti.


2. Pengkodean ( Coding )

Setelah data diperiksa kemudian memberikan kode tertentu dari setiap jawaban responden sesuai dengan variabel yang diteliti, mengelompokannya untuk mempermudah pengelolaan data.

3. Pemberian Skor ( Scoring )
   Melakukan pemeriksaan terhadap jawaban responden yang ada dan memberikan skor yang diperoleh pada kuesioner, lalu mengelompokan sesuai dengan kategori pengetahuan.

4. Pentabulasian ( Tabulating )
  Untuk mempermudah analisis data serta mengambil kesimpulan.data dimasukan kedalam bentuk tabel distribusi frekuensi.


3.8.2. Analisa Data

Analisa data dalam penelitian ini bersifat deskriptif dengan melakukan pengukuran terhadap masing-masing jawaban responden. Data yang terkumpul disajikan dengan tabel distribusi frekuensi kemudian dicari besarnya presentasi untuk masing-masing jawaban responden. Analisa data kemudian dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian dengan menggunakan teori dan keputusan yang ada, selanjutnya adalah apakah hasil tersebut masuk dalam kategori baik, cukup, atau kurang. Penetapan kategori ini adalah sebagai berikut :

Jumlah Jawaban benar x 100 %
__________________________________
Jumlah soal

a. Baik : Apabila mendapatkan nilai 70 – 100%, jika jawaban yang benar 21 – 30 soal.

b. Cukup : Apabila mendapatkan nilai 37 – 67%, jika jawaban yang benar 11 – 20 soal.

c. Kurang : Apabila mendapatkan nilai >33%, jika jawaban yang benar 1 – 10 soal.
View Post

ABSTRAK

X + 66 Halaman+6 diagram+9 tabel+11 Lampiran

KIPI adalah semua kejadian/insiden (medik) sakit dan kematian yang terjadi setelah menerima imunisasi. Yang diduga disebabkan oleh imunisasai. Biasanya terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. (dapat lebih lama, 6 bulan ).jumlah kasus KIPI di Indonesia pada tahun 2011 yaitu sebanyak 376 kasus,yang meningkat tajam jika dibandingkan angka 68 pada tahun 2010 dan 187 pada tahun 2009 Sebagian kasus KIPI terjadi pada imunisasi tambahan.KIPI yang paling serius pada anak adalah reaksi anafilaksi, angka kejadian reaksi anafilaksis pada DPT diperkirakan 2 dalam 100.000 dosis. Tetapi yang benar-benar reaksi anafilatik hanya 1-3 kasus diantara 1 juta dosis.

Penelitian bertujun untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) diklinik bersalin Hj. Nani AMKeb yaitubersifat deskriptif dengan menggunakan data primer dan sekunder. Serta pembagian kuesioner pada responden. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 140 responden, dan peneliti mengambil teknik random sampling yaitu 58 responden.

Dari hasil penelitian ibu hamil tentang KIPI(Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) berpengetahuan Baik sebanyak 14 responden (24,13%),dan berpengetahuan cukup 31 responden (53,45%) berpengetahuan Kurang sebanyak 13 responden (22,41%).umur dengan mayoritas umur 19-23 tahun berpengetahuan cukup sebanyak 7 responden (12,07%),pendidikan dengan mayoritas pendidikan dasar berpengetahuan cukup sebanyak 12 responden (20,69%), pekerjaan mayoritas tidak bekerja dengan pengetahuan cukup sebanyak 24 responden (41,38%), dan gravida mayoritas berpengetahuan cukup pada skundigravida sebanyak 7 responden (12,07%) dan sumber informasi mayoritas berpengetahuan cukup sebanyak 16 responden (27,59%).

Dari hasil penelitian berdasarkan variabel bahwa pengetahuan responden mayoritas berpengetahuan cukup diharapkan kepada tenaga kesehatan agar memberikan penyuluhan tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) khususnya pada ibu hamil agar dapat meningkatkan pengetahuan tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) dan juga diharapkan mengikuti kegiatan penyuluhan.


Kata Kunci :Pengetahuan-ibu hamil-KIPI(Kejadian ikutan pasca imunisasi)
Daftar Pustaka :19 (2003-2011)

_____________________________________________________________________________


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 
    Angka Kematian Bayi menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan anak karena merupakan cerminan dari status kesehatan anak saat ini. Sebagai upaya menghasilkan generasi sehat memerlukan motivasi dan koordinasi semua pihak terutama orangtua, tenaga kesehatan dan aparat pemerintah untuk mendukung program kesehatan sehingga angka kesakitan dan kematian dapat ditekan secara maksimal. Salah satu program kesehatan untuk menghasilkan generasi sehat dan berkualitas dilakukan melalui kegiatan imunisasi.

   Imunisasi merupakan usaha untuk meningkatkan kekebalan aktif seseorang terhadap suatu penyakit dengan memasukan vaksin dalam tubuh bayi atau anak.

  Pada umumnya terdapat efek samping setelah pelaksanaan imunisasi yang dikenal dengan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi ) atau Adverse Events Following Immunization(AEFI ).Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi(KIPI) merupakan semua kejadian/insiden (medik) sakit dan kematian yang terjadi setelah menerima imunisasi. Yang diduga disebabkan oleh imunisasi. Biasanya terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. (dapat lebih lama, 6 bulan ). ( Lisnawati, 2013 )

   Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), berdasarkan Immunization Safety Surveillance WHO (2009), yang mungkin muncul ialah reaksi lokal, seperti sakit, bengkak kemerahan pada tempat suntikan, ruam, dan demam yang kejadiannya mencapai 5-15 persen di dunia.Reaksi lebih berat, seperti kejang demam, penurunan trombosit, anafilaksis (reaksi alergi akut), atau ensefalopati (gangguan otak) sangat jarang terjadi. Risiko ensefalopati 6-12 hari sesudah imunisasi, misalnya, kurang dari 1 dalam 1 juta dosis (WHO, 2009)

   Setiap tahun sekitar 85 -95 % bayi di Negara berkembang mendapat imunisasi rutin, sedangkan sisanya belum terjangkau imunisasi karena menderita penyakit tertentu, sulitnya akses terhadap layanan imunisasi, atau adanya efek samping pasca imunisasi yang sering disebut KIPI, serta sosial-ekonomi dan lain-lain. Artinya setiap tahun ada 10 % bayi (sekitar 450.000bayi) yang belum mendapat imunisasi, sehingga dalam 5 tahun menjadi 2 juta anak yang belum mendapat imunisai dasar lengkap. (www.devinfo.info/immunization).

   Berdasarkan laporan Komnas KIPI terjadi peningkatan jumlah kasus KIPI di Indonesia pada tahun 2011 yaitu sebanyak 376 kasus,yang meningkat tajam jika dibandingkan angka 68 pada tahun 2010 dan 187 pada tahun 2009 Sebagian kasus KIPI terjadi pada imunisasi tambahan. (Komnas KIPI, 2011)

   Di Indonesia sendiri KIPI yang paling serius pada anak adalah reaksi anafilaksi, angka kejadian reaksi anafilaksis pada DPT diperkirakan 2 dalam 100.000 dosis. Tetapi yang benar-benar reaksi anafilatik hanya 1-3 kasus diantara 1 juta dosis. (Ranuh dkk, 2008). 

  Laporan KIPI Dinas Kesehatan Kota Semarang bulan Juli sampaiDesember 2012ada 3 kasus Yaitu kasus pasca imunisasi DPT yang dilaporkan dariPuskesmas Gayamsari Semarang. Gejala anak yang pertama dan kedua adalahbengkak pada daerah suntikan.Gejala anak yang ketiga adalah bintik-bintikmerah gatal. Dirujuk ke Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dan akhirnyasembuh (Profil Kesehatan Kota Semarang, 2012).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no.482/MenKes/SK/4/2010, cakupan imunisasi dasar pada tahun 2009 menunjukkan bahwa dari jumlah sasaran 4.461.341 bayi, cakupan imunisasi BCG (93,8%), DPT 1 (69,6%), Polio 1 (76,6%), Polio 4 (92,4%), campak (91%). Dengan angka Drop Out sebesar 43,5%, angka Drop Out ini menggambarkan terdapat sekitar lebih dari satu juta bayi di Indonesia yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap setiap tahunnya, di sebabkan karena adanya efek samping dari imunisasi sehingga berdampak pada cakupan Universal Child Immunization (UCI). Hal ini dapat dilihat dari persentasi UCI di Indonesia tahun 2008 sebesar 68,2% mengalami penurunan menjadi 68% pada tahun 2009 (Profil Kesehatan Indonesia, DepKes RI, 2010).

  Dari beberapa kabupaten yang ada di Sumatera Utara menurut data profil Dinas Kesehatan Provinsi Medan, Kabupaten Nias Selatanmerupakan kabupaten yang masih rendah cakupan imunisasinya di karenakan kurangnya informasi tentang imunisasi sehingga belum mencapai target yang ditetapkan pemerintah (Dinas kesehatan provinsi Medan, 2009).

  Berdasarkan angka kabupaten, pencapaian UCI pada tahun 2013 telah mencapai 84,69%.Data ini jika dibandingkan dengan target persentase pencapaian UCI tahun 2013 (98%) belum mencapai target. Terbukti di tahun 2013 ini persentase cakupan imunisasi di Kabupaten Labuhanbatu adalah BCG (99,67%), DPT1+HB1 (99,28%), DPT3+HB3 (96,66%), Polio 3 (95,265), Campak (96,16), dan Imunisasi Dasar Lengkap berkisar (85,57%). (Profil Dinkes, 2013).

  Dari data Dinas Kesehatan Labuhanbatu Tahun 2013 tidak tercatat tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi ( KIPI ) tetapi di Klinik Bersalin Bidan Hj. Nani AMKeb tercatat pada tahun 2013 terdapat 2 bayi yang mengalami efek samping setelah melakukan Imunisasi BCG, efek samping timbul seperti indurasi kemerahan dan disertai PUS ( nanah ) kemudian pecah membentuk luka.

  Dari hasil survei awal yang dilakukan pada tanggal 05 Februari 2015 di Klinik Bersalin Bidan Hj. Nani AMKeb diperoleh data jumlah ibu hamil dari Desember – 05 Februari sebanyak 140 orang, dan hasil dari wawancara 8 orang ibu hamil terdapat 3 orang yang mengetahui KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) dan 5 orang yang tidak mengetahui KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). 

   Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti berkeinginan untuk mengangkat permasalahan tentang “Pengetahuan ibu hamil tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada bayi di Klinik Bersalin Bidan Hj. NaniAMKeb Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015”.


1.2 Perumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka perumusan masalah bagi peneliti adalah “ Bagaimana Pengetahuan ibu hamil tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada bayi di Klinik Bersalin Bidan Hj. Nani AMKeb Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu tahun 2015”?


1.3 Tujuan Penelitian 
1.3.1 Tujuan Umum
    Untuk mengetahui Pengetahuan ibu hamiltentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada bayi di Klinik Bersalin Bidan Hj. Nani AMKeb Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu tahun 2015” 


1.3.2 Tujuan Khusus 
  1. Untuk Mengetahui Bagaimana Pengetahuan ibu hamiltentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada bayi berdasarkan Umur 
  2. Untuk Mengetahui Bagaimana Pengetahuan ibu hamil tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada bayi berdasarkan Pendidikan
  3. Untuk Mengetahui Bagaimana Pengetahuan ibu hamil tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada bayi berdasarkan Pekerjaan
  4. Untuk Mengetahui Bagaimana Pengetahuan ibu hamiltentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada bayi berdasarkan Gravida.
  5. Untuk mengetahui Bagaimana pengetahuan ibu hamil tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi ) pada bayi berdasarkan Sumber Informasi.

1.4 Manfaat Penelitian 
1.4.1 Secara Teoritis 
    Meningkatkan pengetahuan dan wawasan peneliti tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam melakukan penelitian tentang Pengetahuan ibu hamil tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada bayi dengan variabel yang berbeda.


1.4.2 Secara Praktis 
1.4.2.1 Bagi Tempat Penelitian
          Untuk memberikan masukan kepada klinik bersalin khususnya tentang KIPI(Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).


1.4.2.2 Bagi Institusi Pendidikan 
     Hasil penelitian ini diharapkan dapatmenambah referensi perpustakaan bagi mahasiswa D-III Kebidanan Akademi kebidanan Ika Bina Labuhanbatu.


1.4.2.3 Bagi Ibu Hamil 
       Untuk meningkatkan pengetahuan Ibu hamiltentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada bayi di Klinik Bersalin Bidan Hj. Nani AMKeb Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu tahun 2015. 


_________________________________________________________________________________


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka konsep

     Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seseorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah. Singkatnya, kerangka konsep membahas saling ketergantungan antara variabel yang dianggap perlu untuk melengkapi dinamika situasi atau hal yang sedang atau akan diteliti. (Sekaran, 2006)

Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini dengan judul Pengetahuan Ibu hamil tentang KIPI ( Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi ) pada bayi adalah sebagai berikut :



Variabel Independen                                       Variabel Dependen 

( Variabel Bebas )                                           (Variabel Terikat)




Keterangan : tidak saling berhubungan antara variabel independen dengan dependen 


3.2 Defenisi Operasional 
    Definisi operasional adalah uraian tentang batasan varibel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2012 ) 

Adapun defenisi operasional penelitian ini adalah sebagai berikut : 
1. Pengetahuan ibu hamil tentang KIPI 
    Pengetahuan ibu hamil tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi ) pada bayi adalah hasil tahu dari responden yang sekedar menjawab pertanyaan yang di ajukan melalui kuesioner tentang KIPI, hasil ukur dengan kategori : 
  1. Pengetahuan baik, jika responden dapat menjawab dengan benar 21-30 soal, dan mendapat nilai ( 70%-100% ) 
  2. Pengetahuan cukup, jika responden dapat menjawab dengan benar 11-20 soal, dan mendapat nilai ( 37%-67% ) 
  3. Pengetahuan kurang, jika responden dapat menjawab dengan benar 0-10 soal, dan mendapat nilai ( 0%-33% ) 
Skala ukur : Ordinal 
Alat ukur : Kuesioner 

2. Umur 
  Umur adalah usia responden yang terhitung sejak ia lahir sampai saat dilakukan penelitian. Hasil pengukuran nilai dalam bentuk angka, dengan kategori sebagai berikut : 

1. 19-23 tahun 
2. 24-28 tahun 
3. 29-33 tahun 
4. 34-38 tahun 
5. 39-43 tahun 

Skala ukur : Interval 
Alat ukur : Kuesioner 

3. Pendidikan 
   Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang telah diikuti oleh responden, yang dikategorikan: 

1. Pendidikan Dasar :( SD, SMP ) 
2. Pendidikan Menengah :( SMA, Sederajat ) 
3. Pendidikan Tinggi :( D III, Perguruan Tinggi ) 
Skala ukur : Ordinal 
Alat ukur : Kuesioner 
 
4. Pekerjaan 
  Pekerjaan adalah suatu pekerjaan dalam hal untuk mendapatkan upah, gaji / tindakan untuk melangsungkan kehidupan, dengan kategori : 
 1. Bekerja 
     a. PNS 
     b. Wiraswasta 
     c. Karyawan 
     d. Bertani 

2. Tidak bekerja 
    a. IRT 

Skala ukur : Nominal 
Alat ukur : Kuesioner 

5. Gravida 
    Gravida adalah keadaan ibu hamil dengan jumlah kehamilannya, yang dikategorikan : 
  1. Primigravida ( Ibu hamil pertama kali ) 
  2. Skundigravida ( Ibu hamil kedua kali ) 
  3. Multigravida ( Ibu hamil lebih dari tiga kali ) 
  4. Grandemultigravida ( Ibu hamil lebih dari lima kali ) 
Skala Ukur : Ordinal 
Alat ukur : Kuesioner 

6. Sumber informasi 
  Sumber informasi adalah asal pesan atau informasi yang diperoleh oleh responden berdasarkan: 

1. Ada 
- Media cetak : surat kabar, buku, majalah, koran, dan tabloid 
- Media elektronik : televisi, radio, internet 
- Tenaga kesehatan : dokter, bidan, perawat 

2. Tidak ada 
Skala ukur : Nominal 
Alat ukur : Kuesioner 


3.3 Jenis penelitian 
    Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif yaitu menggambarkan pengetahuan ”Ibu hamil tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada bayi di Klinik Bersalin Bidan Hj. Nani AMKeb Rantau utara Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015”. 


3.4 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian 
3.4.1. Lokasi Penelitian 
       Lokasi Penelitian ini akan dilakukan di Klinik Bersalin Bidan Hj. Nani AMKeb Jalan Nenas Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015. 

3.4.2. Waktu Penelitian 
       Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2014 – Juni 2015 dengan jadwal dan waktu penelitian adalah sebagai berikut :




3.5. Populasi dan Sampel
3.5.1 Populasi
     Populasi adalah objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditari kesimpulannya. ( Aziz, 2011 )

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang ada di Klinik Bersalin Bidan Hj. Nani AMKeb kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu tahun 2015 yaitu sebanyak 140 ibu hamil.


3.5.2 Sampel
      Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. (Aziz, 2011)

Besar sampel yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebanyak 58. Besar sampel dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Solvin (menurut Nursalam, 2003 ) yakni sebagai berikut :

N
___________
1+(N.e2)
Keterangan : 
n = jumlah sampel
N = jumlah populasi
E = standar error (10%)

Maka n = 58.3 (dibulatkan)
        n = 58

Tekhnik yang digunakan dalam penentuan sampel adalah tekhnik Simple Random Sampling artinya pengambilan data secara acak sehingga unit sampling mempunyai peluang yang sama untuk menjadi sample.


3.6 Jenis, cara dan alat pegumpulan Data
3.6.1 Jenis Data

1.Data primer

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, adalah data yang diperoleh langsung dari Responden melalui kuesioner Data ini harus dicari melalui narasumber yaitu orang kita jadikan objek penelitian/ orang yang kita jadikan sebagai sarana mendapatkan informasi ataupun data ( Saryono,2010 )

2.Data sekunder

Data yang di peroleh dari kumpulan sumber dari catatan, media, laporan, di klinik bersalin bidan Hj. Nani AMKeb Data sekunder juga dapat sebagai data penunjang atau penguat sebagai bukti kebenaran data tersebut ( Saryono, 2010 ).


3.6.2 Cara Pengumpulan Data
        Pengumpulan data dilakukan di klinik bersalin Hj. Nani Am.Keb Kelurahan Padang bulan Kecamatan Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu yaitu dengan cara memberikan undangan kepada responden( ibu hamil ) dengan maksud agar responden datang ke klinik bersalin Hj. Nani Am.Keb pada hari yang ditentukan dengan tujuan mengisi kuesioner dan memberikan penyuluhan tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pada bayi. Sebelum responden menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam kuesioner, peneliti menjelaskan tata cara pengisian kuesioner, dan responden diminta menandatangani kesediannya untuk menjadi responden dalam penelitian. 

Penelitian ini menggunakan data primer yang berasal dari kuesioner. Setelah kuesioner disebarkan kepada responden, terlebih dahulu peneliti memberikan penjelasan tentang cara pengisian kuesioner serta meminta responden untuk menandatangani persetujuan menjadi responden (informand consent ).

Setelah selesai menjawab seluruh pernyataan kuesioner, dikumpulkan kembali untuk diperiksa kelengkapan jawaban responden. Jawaban yang telah diisi seluruhnya secara langsung dikumpulkan. Sedangkan jika ada jawaban yang belum lengkap, responden diminta mengisi jawaban yang belum di jawab tersebut.Cara pembuatan kuesioner berdasarkan kisi – kisi soal yang berisikan tentang pengetahuan ibu hamil tentang KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi )


3.6.3 Alat pengumpulan data 
         * Kuesioner 
Adalah suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Pertanyaan dan pernyataan dalam kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup maupun terbuka. Terbuka artinya responden dapat menuliskan jawabannya sesuai apa yang diinginkannya berupa uraian, sedangkan tertutup artinya responden harus memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan. (Sugiyono. 2011)


3.7 Pengolahan Data dan Teknik Analisa Data
3.7.1 Pengolahan Data
     Data yang telah terkumpul selanjutnya diolah secara manual dengan langakah – langkah sebagai berikut :

1. Editing
   Pada langkah ini peneliti melakukan pengecekan terhadap kuesioner yang bertujuan agar data yang masuk dapat diolah secara benar sehingga pengolahan data dapat memberikan hasil yang menggambarkan masalah yang diteliti.

2. Coding 
  Pada langkah ini penulis melakukan pengkodean dengan cara merubah jawaban responden kedalam bentuk angka, misalnya nama responden dirubah menjadi 1, 2, 3, …………….30 untuk memperoleh analisa.

3. Skoring 
  Melakukan pemeriksaan terhadap jawaban responden yang ada dan memberikan skor yang diperoleh dari kuesioner dan mengelompokkan sesuai dengan kategori pengetahuan.

4. Tabulating 
   Untuk mempermudah analisa data serta mengambil kesimpulan, data dimasukkan ke dalam bentuk table distribusi frekuensi, dan di hitung persentasenya untuk setiap variabel yang diteliti.

3.7.2 Teknik Analisa Data
      Analisa dilakukan dengan melihat presentase data yang terkumpul dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi yang dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian berdasarkan materi dan kepustakaan yang ada.

 Jumlah Jawaban benar x 100 %
__________________________________
Jumlah soal



Menurut Arikunto ( 2006 ) penutup kategori nilai / skor adalah sebagai berikut :

a. Baik : Jika dapat menjawab 21-30 soal dan mendapat nilai 70% – 100%

b. Cukup : Jika dapat menjawab 11-20 soal dan mendapat nilai 37% – 67%

c. Kurang : Jika dapat menjawab 0-10 soal dan mendapat nilai 0% – 33%


Setelah diperoleh kategori pengetahuan dari masing – masing responden, kemudian dilakukan persentase.
View Post