Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin:
1.    Dukungan fisik dan psikologis
Setiap ibu yang akan memasuki masa persalinan maka akan muncul perasaan takut,khawatir,cemas,terutama pada ibu primipara. Maka perlu diberikan asuhan seperti mendukung ibu selama proses persalinan merupakan suatu standar pelayanan kebidanan.Dan dukungan dapat di berikan oleh orang-orang terdekat pasien (suami,keluaraga,teman,bidan,maupun dokter).
2.    Kebutuhan makanan dan cairan
Makanan padat tidak boleh diberikan selama persalinan aktif karena,  makanan padat lebih lama tinggal dalam lambung dari pada makanan cairan,sehingga proses pencernaan lebih lambat selama persalinan.Untuk mencegah dehidrasi,pasien dapat diberikan banyak minuman segar (jus buah, sup dan lain-lain).
3.    Kebutuhan eliminasi
Kebutuhan kencing harus dikosongkan setiap 2 jam selama proses persalinan,karna kandung kemih yang penuh dapat menghambat penurunan bagian terbawah janin.
4.    Posisioning dan aktivitas
Persalinan dan kelahiran merupakan suatu peristiwa yang normal,tanpa di sadari dan mau tidak mau harus berlangsung.
5.    Pengurangan rasa nyeri
Selama kala satu persalinan,penyebab nyeri akibat dari rangsangan reseptor-reseptor adnexa,uterus dan ligament-ligament panggul akan berkurang bila dipenuhinya kebutuhan ibu saat bersalin (Yanti, 2015).
Perubahan fisiologis kala I adalah :
1.    Perubahan hormonal.
2.    Perubahan serviks: pendataran dan pembukaan.
3.    Perubahan pada vagina dan dasar panggul.
a.    Kala I: ketuban meregang vagina bagian atas.
b.    Setelah ketuban pecah: perubahan vagina dan dasar panggul karena pada bagian depan anak.
4.    Perubahan uterus.
Segmen atas dan  bawah rahim:
a.    Segmen atas rahim: aktif, berkontraksi, dinding bertambah tebal.
b.    Segmen   bawah rahim / SBR: pasif, makin tipis.
c.    Sifat khas kontraksi rahim: setelah kontraksi tidakrelaksasi kembali (retraksi) dan kekuatan kotraksi tidak sama kuat. Paling kuat di fundus, karena segmen atas semakin tebal dan segmen bawah semakin tipis: Lingkretraks fisiologis, jika SBR sangat di regang maka lingkretraks patologis (lingkaran bandl), lingkaran bandl merupakan ancaman robekan rahim.
5.    Penurunan janin
1)   Keadaan psikologis pada ibu bersalin kala I: rasa takut, stress,ketidaknyamanan, cemas, marah-marah, dll.
2)   Kebutuhan dasar ibu bersalin kala I.
a.    Kebutuhan ibu selama kala I: kebutuhan akan rasa aman dan nyaman, nutrisi, kebutuhan dukungan emosional, sosial, spiritual.
b.    Penyulit kalaI yaitu partus lama,gawat janin,dan rupture uteri.
c.    Tujuan asuhan kala I:
Menyiapkan kelahiran bayi seoptimal mungkin sehingga persalinan bayi dapat berjalan lancar tanpa komplikasi.
Lama kala I primi : 12 jam, multi 8 jam, sebagai pegangan :
a.    Primi : kemajuan pembukaan 1 cm selama 1 jam.
b.    Multi : kemajuan pembukaan 2 cm setiap 1 jam.
(Yanti, 2015)
Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin Kala I :
1.    Pengkajian
Pengkajian di lakukan untuk mendapatkan data tentang:
Kemajuan persalinan, kondisi ibu dan kondisi janin serta komplikasi yang terjadi.Pengkajian pada asuhan kebidanan ibu bersalin meliputi:
a.    Data subyektif dengan anamnesa.
b.    Data objektif dengan pemeriksaan fisik.
2.    Interpretasi data dasar
3.    Identifikasi masalah ataudiagnosa berdasarkan data yang terkumpul dan interpretasi yang benar.
4.    Mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial.
5.    Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera baik oleh bidan maupun dokter.
6.    Merencanakan asuhan kebidanan persalinan kala I yang komprehensif/ menyeluruh.
7.    Melakukan deteksi dini komplikasi dan persiapan rujukan.
Asuhan Persalinan Kala II
Kala pengeluaran di mulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Pada kala dua bidan memantau dengan seksama dan memberikan dukungan serta memberikan kenyamanan pada ibu baik dari perasaaan maupun dari fisik (Yanti, 2015).
Fisiologi Kala II
1.    His menjadi lebih kuat dan sering
2.    Timbul tenaga untuk meneran
3.    Perubahan dalam dasar panggul
4.    Lahirnya fetus
Asuhan Kebidanan Kala II
a.     Pengkajian
Anamnesis dan pemeriksaan fisik pada kala II dilakukan untuk mengetahui sudah masuk kala II dan apakah ada komplikasi yang mengindikasikan merujuk.
b.    Interpretasi data dasar
Identifikasi masalah atau diagnosa berdasarkan data yang terkumpul dan interpretasi yang benar.
c.    Mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
d.   Menetapkan kebutuhan terhadaptindakan segera baik oleh bidan maupun dokter.
e.    Menyusun rencana asuhan yang komprehensif.
Pada kala dua bidan memantau dengan seksama dan memberikan dukungan serta memberikan kenyamanan pada ibu baik dari perasaaan maupun dari fisik (Yanti, 2015).
Respon Fisiologi Persalinan Kala II
1.    Sistem kardiovaskuler
a.    Kontraksi menurunkan aliran darah menuju uterussehingga jumlah darah dalam sirkulasi meningkat.
b.    Resistensi perifer meningkat sehingga tekanan darahmeningkat.
c.    Saat mengedan: cardiac out put meningkat 40-50%.
d.   TD sistolik meningkat rata-rata 15mmHg saat kontraksi.
e.    Janin normalnya dapat beradaptasi tanpa masalah.
f.     Oksigen yang meneran selama kontraksi menyebabkan hipoksia tetapi dengan kadar yang masih adekuat tidakmenimbulkan masalah serius.
2.    Respirasi
a.    Respon terhadap perubahan system kardiovaskuler: konsumsi oksigen meningkat.
b.    Percepatan pematangan surfaktan: penekanan pada dada selama proses persalinan memebersihkan paru-paru janin dari cairan yang berlebihan.
3.    Pengaturan suhu
a.    Aktivitas ototyang semakin meningkat menyebabkan sedikit kenaikan suhu.
b.    Keseimbangan cairan: kehilangan cairan karena meningkatnya kecepatan dan kedalaman respirasi.
4.    Urinaria
Perubahan:
a.    Ginjal memekatkan urine
b.    Berat jenis meningkat
c.    Ekstresi protein trace
Penekanan kepala janin menyebabkan tonus vesica kandung kencing menurun.
5.    Musculoskeletal
a.    Hormone relaxin menyebabkan pelunakan kartilago di antara tulang.
b.    Fleksibilitas pubis meningkat.
c.    Nyeripunggung.
d.   Janin: Tekanan kontraksi mendorong janin sehingga terjadi fleksi maksimal.
6.    Saluran cerna
a.    Praktis inaktif selama persalinan.
b.    Proses pencernaan dan pengosongan lambung memanjang.
7.    System syaraf
a.    Janin: kontraksi menyebabkan penekanan pada kepala janin sehingga DJJ menurun.
Fisiologi Persalinan Kala III
Kala tiga dimulai setelah pengeluaran bayi sampai pengeluaran plasenta, berlangsung selama 5-30 menit (Icesmi Sukarni, 2012).
1.    His pelepasan uri.
2.    Tanda pelepasan plasenta.
3.    Perdarahan di anggap patologis bila melebihi 500cc.
4.    Sebab-sebab pelepasan plasenta :
a.    Pengecilan rahim akibat retraksi dan otot-otot rahim.
b.    Di tempat plasenta terlepas hematoma: plasenta terangkat dari dasarnya.
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala III
Pengkajian awal/segera
a.    Palpasi uterus untuk memastikan apakah ada bayi kedua.
b.    Menilai BB apakah stabil, jika tidak, rawat segera.
Fisiologi Persalinan Kala IV
Kala IV adalah kala pengawasan selama 2 jam setelah bayi dan plasenta lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan (Icesmi Sukarni, 2013).
a.    Involusi uterus
Terjadi reorganisasi dan pengeluaran desidua/endometrium dan eksfoliasi tempat perlekatan plasenta yang di tandai dengan penurunan dan penyusutan berat badan serta perubahan pada lokasi uterus juga ditandai dengan warna dan jumlah lokhea.Banyaknya lokhea dan kecepatan involusi tidak di pengaruhi olehpemberian rangkaian preparat yang hanya mempunyai efek jangka pendek (ergotrate, methergine) akan tetapi menyusui mempercepat proses involusi.
b.    Serviks, vagina dan perineum
Serviks, vagina dan perineum yang di lihat adalah perlukaan, kedua adalah luka memar. Setelah plasenta lahir segera lihat bagian serviks apakah tebal, dan edema.
c.    Episiotomi
Bidan melakukan inspeksi, tanda-tanda infeksi dan bukti-bukti penyembuhan tergantung kedalaman insisi.
d.   Lokhea
Lokhea adalah keluaran dari uterus setelah melahirkan. Terdiri dari darah, sel-sel tua, dan bakteri.
e.    Vital sign
Tekanan darah, nadi, respirasi harus stabil seperti pada tahap sebelum bersalin selama 1 jam post partum.
f.     Menggigil
Jika timbul rasa dingin dan menggigil masih di pertimbangkan dalam batas-batas normal bila terkuras selama persalinan.
g.    Sistem gastrointestinal
Rasa mual muntah akan hilang. Pertama ibu akan merasa haus dan lapar hal ini karena memerlukan banyak energy.
h.    Sistem renal
Air seni yang tertahan yang menyebabkan kandung kemih lebih membesar. Kondisi ini terjadi karena tekanan dan dorongan pada urethra selamapersalinan. Dalam 2 jam post partum ibu harus sudah bisa BAK, jika belum bisa lakukan kateterisasi.
i.      Perawatan haemoroid
Haemoroid yang disebabkan tekanan oleh kepala bayi dan upaya meneran ibu pada saat persalinan.
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala IV
a.    Evaluasi kontinue terhadap setiap temuan atau perkembangan signifikan selama periode antepartum dan intrapartum.
b.    Evaluasi perubahan fisiologis dan antomis puerperium.
c.    Evaluasi tanda-tanda vital wanita tanda dan tanda, gejala, serta perubahan fisik.
d.   Evaluasi respon ibu dan ayah terhadap bayi mereka.

Asuhan Sayang Ibu :
Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang efektif,aman,nyaman dan dapat di terima oleh ibu bersalin maupun keluarganya. Prinsip umum asuhan sayang ibu:
1.    Pencegahahan Infeksi
Dalam memberikan asuhan yang bermutu tinggi, bidan harus melindungi pasien, diri sendiri dan rekan kerjanya dari infeksi.
2.    Pengambilan Keputusan Klinik
Keputusan klilnik yang di buat bidan sangat menentukan dalam memastikan kelahiran yang aman. Dengan menggunakan proses penatalaksanaan kebidanan/langkah-langkah dalam manajemen kebidanan yang benar.
3.    Pencatatan
Dokumentasi memberikan catatan permanen mengenai manajemen pasien dan dapat menjadi pertukaran informasi antara tenaga kesehatan.
4.    Rujukan

Rujukan padainstitusi yang tepat dan tepatwaktu, untuk mendapat asuhan yang di butuhkan akan menyelamatkan nyawa ibu ( Lailiyana, 2015).
View Post
1.Pada Kehamilan Trimester I


Trimester pertama ini sering dirujuk pada masa penentuan yang membuat fakta bahwa wanita itu hamil. Kebanyakan wanita bingung tentang kehamilan nya, hampir 80% wanita hamil kecewa, menolak, gelisah, depresi dan murung. Beberapa ketidaknyamanan pada trimester I :

a. Mual
b. Lelah
c. Perubahan selera makan
d. Perubahan emosional


2. Pada Kehamilan Trimester II

Trimester kedua biasanya ibu sudah merasa sehat. Tubuh ibu telah terbiasa dengan kadar hormone yang lebih tinggi dan rasa tidak nyaman karena hamil sudah berkurang. Ibu telah menerima kehamilannya dan mulai dapat menggunakan energi serta pikirannya secara lebih konstruktif. Pada trimester ini pula ibu mampu merasakan gerakan janinnya. Banyak ibu yang merasa terlepas dari rasa kecemasan dan rasa tidak nyaman, seperti yang dirasakannya pada trimester pertama dan juga merasakan naiknya libido (Asrinah, 2010). 


3. Pada kehamilan trimester III

Trimester ketiga seringkali disebut periode menunggu dan waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya.Kadang ibu merasa khawatir bila bayinya lahir sewaktu-waktu. Ibu sering merasa khawatir kalau-kalau bayinya lahir tidak normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi bayinya dan cenderung menghindari orang atau benda apa saja yang dianggapnya membahayakan bayi. Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul kembali pada trimester ketiga dan banyak ibu merasa aneh atau jelek (Ika Pantikawati, 2010).



View Post

A. Panggul terdiri atas
1. Bagian keras yang dibentuk oleh tulang
2. Bagian yang lunak dibentuk oleh otot – otot dan ligamentum

B. Bagian Keras Panggul
Tulang panggul terdiri atas empat tulang :
1. 2 tulang pangkal paha (ossa coxae)
2. 1 tulang kelangkang (os sacrum)
3. 1 tulang tungging (os coccygis)

C. Tulang pangkal paha (ossa coxae) terdiri dari
a. Tulang usus (os ilium)

  1. Merupakan tulang terbesar dari panggul dan membentuk bagian atas dan belakang dari panggul. 
  2. Bagian atas merupakan pinggir tulang yang tebal yang disebut crista iliaca. 
  3. Ujung depan maupun belakang dari crista iliaca menonjol disebut spina iliaca anterior superior dan spina iliaca posterior superior. 
  4. Sedikit dibawah spina iliaca anterior superior terdapat tonjolan tulang lagi ialah spina iliaca anterior inferior, sedangkan sebelah bawah spina iliaca posterior superior terdapat spina iliaca posterior inferior. 
  5. Dibawah spina iliaca posterior inferior terdapat tekik (lekuk) yang disebut incisura ischiadica mayor. 
  6. Pada os ilium terdapat lajur ialah linea innominata (linea terminalis) yang menjadi batas antara panggul besar dan panggul kecil.
b. Tulang duduk (os ischium)
  1. Terdapat sebelah bawah dari tulang usus.
  2. Pinggir belakang berduri disebut Spina Ischiadica
  3. Di bawah spina ischiadica terdapat incisura ischiadica minor. Pinggir bawah tulang duduk sangat tebal, bagian inilah yang mendukung berat badan kalau kita duduk dan disebut tuber ischiadicum.
c. Tulang kemaluan (os pubis)
  1. Terdapat sebelah bawah dan depan dari tulang usus. Dengan tulang duduk, tulang ini membatasi sebuah lubang dalam tulang panggul yang disebut foramen obturatorium. 
  2. Tangkai tulang kemaluan yang berhubungan dengan tulang usus disebut rasmus superior ossis pubis.
  3. Sedangkan yang berhubungan dengan tulang duduk disebut rasmus inferior ossis pubis.
  4. Rasmus inferior kiri dan kanan membentuk arcus pubis.
D. Tulang kelangkang (os sacrum)
  1. Berbentuk segitiga 
  2. Melebar diatas dan meruncing kebawah
  3. Terletak sebelah belakang antara kedua pangkal paha
  4. Terdiri dari 5 ruas tulang bersenyawa
  5. Permukaan depannya cekung dari atas kebawah maupun dari samping ke samping
  6. Kiri dan kanan dari garis tengah nampak lima buah lobang disebut foramina sacralia anteriora.
  7. Lubang ini dilalui urat –urat syaraf yang akan membentuk flexus dan pembuluh darah kecil
  8. Flexus sacralis ini melayani tungkai, oleh karena itu kadang-kadang penderita merasa nyeri atau kejang di kaki, kalau flexus sacralis ini tertekan pada waktu kepala turun ke dalam rongga panggul.
  9. Permukaan belakang tulang kelangkang gembung dan kasar. Di garis tengahnya terdapat deretan duri disebut crista sacralis
  10. Ke atas tulang kelangkang berhubungan dengan ruas ke 5 tulang pinggang
  11. Bagian atas dari sacrum yang mengadakan perhubungan ini menonjol ke depan disebut promontorium.
E. Tulang tungging (os coxigis)
  1. Berbentuk segitiga dan terdiri atas 3-5 ruas bersatu 
  2. Pada persalinan ujung tulang tungging dapat ditolak sedikit ke belakang, hingga ukuran pintu bawah panggul bertambah besar
F. Ruang Panggul (Pelvis Cavity)
  1. Pelvis major (false pelvis) 
  2. Pelvis minor (true pelvis). Pevis major terletak di atas linea terminalis yang di bawah disebut pelvis minor. 
G. Pintu Panggul
  1. Pintu atas panggul (PAP) = Disebut Inlet dibatasi oleh promontorium, linea inominata dan pinggir atas symphisis. 
  2. Ruang tengah panggul (RTP) kira-kira pada spina ischiadica, disebut midlet
  3. Pintu Bawah Panggul (PBP) dibatasi simfisis dan arkus pubis, disebut outlet
  4. Ruang panggul yang sebenarnya (pelvis cavity) berada antara inlet dan outlet.
H. Inklinasi panggul / miring panggul
yaitu sudut antara pintu atas panggul dengan bidang sejajar tanah, pada wanita yang berdiri sudut ini 55 derajad.

I. Menentukan ukuran panggul
Ukuran panggul dapat ditentukan secara:

  1. Klinik (pelvimetri klinik)
  2.  Rontgen pelvimetri
1. Pelvimetri Klinik
Pintu atas panggul
Ukuran terpenting dari pintu atas panggul adalah konjugata vera yang dapat diukur secara tidak langsung yaitu dengan mengukur konjugata diagonalis dengan pemeriksaan dalam:
1,5 – 2 cm (CV = CD – 1,5)

Pada panggul yang normal promontorium tidak dapat diraba dengan pemeriksaan dalam karena konjugata diagonalis cukup panjang. Sedangkan pada panggul yang sempit promotorium dapat diraba.

Pintu atas panggul dianggap normal bila:
  1. CD; 11,5 cm 
  2. Multigravida dengan riwayat obstetric yang baik
  3. Pada primigravida setelah kehamilan 36 minggu, kepala sudah masuk pintu atas panggul
Ukuran terbesar kepala sudah melewati pintu atas panggul
  1. Pemeriksaan luar: Leopold IV divergen 
  2. Pemeriksaan dalam: Jarak bidang pintu atas panggul sampai spina iskhiadika adalah 5 cm, jarak bidang biparietal adalah 3-4 cm. Maka jika bagian terendah kepala sudah mencapai spina iskhiadika atau lebih rendah, berarti ukuran terbesar kepala sudah melewati pintu atas panggul.
J. Ukuran – ukuran panggul
Ukuran-ukuran luar tak dapat dipergunakan untuk penilaian,apakah persalinan dapat berlangsung secara biasa atau tidak. Walaupun begitu ukuran-ukuran luar dapat memberikan petunjuk pada kita akan kemungkinan panggul sempit.

Ukuran luar yang terpenting ialah:

  1. Distantia spinarum : Jarak antara spina iliaca anterior superior kiri dan kanan (Ind. 23, Er. 26), kurang lebih 24 – 26 cm 
  2. Distantia cristarum : Jarak yang terjauh antara crista iliaca kanan dan kira (Ind. 26, Er. 29), kurang lebih 28 – 30 cm. 
  3. Conjugata externa (Baudeloque) : Jarak antara pinggir atas symphysis dan ujung prosessus spinosus ruas tulang lumbal ke-V (Ind. 18, Er. 20), 18 cm. 
  4. Ukuran lingkar panggul : Dari pinggir atas symphysis ke pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan trochanter major sepihak dan kembali melalui tempat – tempat yang sama di pihak yang lain (Ind. 80, Er. 90), kurang lebih 10,5 cm.
Ukuran dalam panggul :
Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh promontorium, linea inniminata, dan pinggir atas simfisis pubis

  1. konjugata vera : dengan periksa dalam diperoleh konjugata diagonalis 10,5-11 cm 
  2. konjugata transversa 12-13 cm
  3. konjugata obliqua 13 cm
  4. konjugata obstetrica adalah jarak bagian tengah simfisis ke promontorium
K. Jenis Panggul
Berdasarkan pada ciri-ciri bentuk pintu atas panggul, ada 4 bentuk pokok jenis panggul :

  1. Ginekoid : paling ideal, panggul perempuan, diameter anteroposterior sama dengan diameter transversa bulat : 45% 
  2. Android : panggul pria, PAP segitiga, diameter transversa dekat dengan sacrum. segitiga : 15%
  3. Antropoid : agak lonjong seperti telur, diameter anteroposterior lebih besar daripada diameter transversa.
  4. Platipeloid : picak, diameter transversa lebih besar daripada diameter anteroposterior, menyempit arah muka belakang : 5%
L. Perbedaan bentuk panggul pria dan wanita
  1. Pada wanita, dinding pelvis spurium dangkal, SIAS menghadap ke ventral. Pada pria, dinding pelvis spurium tajam / curam, SIAS menghadap ke medial. 
  2. Pada wanita, apertura pelvis superior berbentuk oval. Pada pria, apertura pelvis superior berbentuk heart-shaped, lengkung, dengan promontorium os sacrum menonjol ke anterior.
  3. Pada wanita, pelvis verum merupakan segmen pendek suatu kerucut panjang. Pada pria, pelvis verum merupakan segmen panjang suatu kerucut pendek.
  4. Pada wanita, ukuran-ukuran diameter rongga panggul lebih besar (perbedaan sampai sebesar 0.5-1.5 cm) dibandingkan ukuran-ukuran diameter rongga panggul pria.
  5. Pada wanita, apertura pelvis inferior berbentuk bundar, diameter lebih besar. Pada pria, apertura pelvis inferior berbentuk lonjong dan kecil.
  6. Pada wanita, angulus subpubicus adalah sudut lebar / besar. Pada pria, angulus subpubicus merupakan sudut tajam / kecil.
M. Sumbu Panggul
Sumbu panggul adalah garis yang menghubungkan titik-titik tengah ruang panggul yang melengkung ke depan (sumbu Carus)

Bidang-bidang :
(1) Bidang Hodge I : dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas symphisis dan promontorium
(2) Bidang Hodge II : sejajar dengan Hodge I setinggi pinggir bawah symphisis.
(3) Bidang Hodge III : sejajar Hodge I dan II setinggi spina ischiadika kanan dan kiri.
(4) Bidang Hodge IV : sejajar Hodge I, II dan III setinggi os coccygis

N. Bagian Lunak Panggul
Terdiri atas otot, ligamentum dan fascia, yang meliputi dinding panggul sebelah dalam dan menutupi panggul sebelah bawah (dasar panggul)
1. Lapisan luar.
• M.sfingter ani ekternus, yang mengelilingi anus.
• M. Bulbokavernosus, yang mengelilingi vulva.
• M. Transversus parinea suferfisialis.
2. Lapisan tengah
• M. Transversus parinea profundus.
• M. Stingfer uretra.
3. Lapisan dalam (diafragma pelvis)
• M. Pubokoksigeus.
• M. Iliokoksigeus.
• M. Koksigeus.

sumber
1. Winkjosastro. Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta;2002.
2. Cunningham. Obstetric Williams. penerbit buku kedokteran ECG, Jakarta;2006.
3. IBG Manuaba dkk. Pengantar Kuliah Obstetri. EGC. Jakarta;2006
4. Salmah, dkk. Asuhan kebidanan antenatal EGC. Jakarta;2006
5. Varney. Varney midwifery. Jakarta;1997.
6. Neil, W.R. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta. Dian Rakyat; 2001.
View Post
PANGGUL DALAM

Panggul dalam terbagi menjadi 2 (dua) bagian :
  1. Pintu Atas Panggul (PAP)
  2. Pintu Tengah Panggul (PTP)
  3. Pintu Bawah Panggul (PBP)
  1. Pintu Atas Panggul (PAP)
          Batas-batasnya promontorium, sayap sakrum, articulatio sakro iliaka, linea inominata, tuberkulum pubikum, pinggir atas simfisis, arkus pubis.
  • Diamater anterior posterior dari promontorium ke pinggir atas simfisis panjangnya 11 cm
  • Diameter transversal dari kedua linea inominata kanan dan kiri panjangnya 12,5 cm
  • Diameter oblik dari articulatio sacro iliaca ke tuberculum pubikum panjangnya 13 cm.

2. Pintu Tengah Panggul (PTP)
  1. Bagian Terluas Panggul
Batas-batasnya pertengahan simfisis pertengahan asetabulum dan pertemuan ruas sakrum 2-3.
  •  Diameter anterior posterior dari pertengahan simfisis ke pertemuan ruas sakrum 2-3 panjangnya 12,75 cm
  • Diameter transversal dari pertengahan simfisis kanan dan kiri panjangnya 12,5 cm
      2. Bagian Tersempit Panggul
Batas-batasnya pinggir bawah simfisis, spina ischiadikum, memotong ruas sakrum 1 dan 2 dari ujung sakrum.  
  • Diameter anterior posterior dari pinggir bawah simfisis memotong ruas sakrum 1 dan 2 dari ujung sakrum panjangnya 11,5 cm
  • Diameter Transversal dari kedua spina ischiadika kanan dan kiri panjangnya 11 cm.

      3. Pintu Bawah Panggul (PBP)
Batas-batasnya pinggir bawah simfisis, ujung sakrum, tuber ischiadikum.
  • Diameter anterior posterior dari pinggir bawah simfisis ke ujung sakrum panjangnya 11 cm.
  • Diamater Transversal dari kedua tuber ischiadikum kanan dan kiri panjangnya 10,5 cm 


View Post